Beranda Jabar Sukses Pertahankan Budaya Gotongroyong, Desa Nagrak Wakili Kabupaten Bandung Di Lomba BBGRM...

Sukses Pertahankan Budaya Gotongroyong, Desa Nagrak Wakili Kabupaten Bandung Di Lomba BBGRM Tingkat Propinsi Jabar

Jabarpress.com, Bandung–Desa Nagrak Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung berhasil masuk nominasi ajang lomba Bulan Bakti Gotongroyong Masyarakat (BBGRM) Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2021.

Desa Nagrak mewakili Kabupaten Bandung di ajang lomba BBGRM Tingkat Propinsi Jabar Tahun 2021 berkat keberhasilannya mempertahankan dan melestarikan budaya gotongroyong masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan serta aspek kehidupan sehari-hari. Terutama dalam 4 katagori (kriteria) yang menjadi sasaran penilaian lomba BBGRM, yakni bidang lingkungan hidup, kemasyarakatan, sosial budaya agama dan bidang perekonomian.

Di ajang BBGRM Tingkat Propinsi Jabar kali ini, Desa Nagrak akan bersaing dengan desa/kelurahan dari empat daerah, yakni 2 desa masing-masing dari Garut dan Sumedang serta 2 kelurahan masing-masing dari Kota Banjar dan Sukabumi.

Kades Nagrak Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, Ujang Suparman, bersyukur desanya bisa berhasil melaju ke ajang BBGRM tingkat Propinsi Jabar, setelah sebelumnya menjadi juara BBGRM tingkat Kabupaten Bandung Tahun 2021.

Dia menyebut, penilaian oleh tim propinsi sudah dilakukan dan saat ini tinggal menunggu hasil final.

“Alhamdulillah, desa kami, Desa Nagrak, sekarang maju ke BBGRM tingkat Provinsi Jabar dan sudah dilaksanakan kegiatan assesmen penilaian sejak 22 April 2021, tinggal menunggu keputusan hasil final dari propinsi,” ujar Kades Suparman kepada Jabarpress.com, Selasa (18/5/2021).

Dia mengungkap, budaya gotongroyong masyarakatnya yang masih kuat menjadi faktor keberhasilan desanya menjuarai ajang BBGRM Tingkat Kabupaten Bandung Tahun 2021 sekaligus mengantarkannya menjadi satu-satunya desa yang mewakili Bandung di ajang BBGRM tingkat Propinsi Jabar.

“Keberhasilan kita bisa memicu gotongroyong, diantaranya gotongroyong membuat jalan baru, membenahi lingkungan hidup, mempertahankan budaya kesenian. Di Nagrak ini kultur gotongroyongnya masih kuat. Penilaian ini yang menjadikan kita dapat penghargaan dari Pemkab Bandung sebagai desa pemenang BBGRM tahun 2021,” paparnya.

Diantara kegiatan pembangunan desanya yang sukses berkat gotongroyong warga, yakni pembuatan ruas jalan baru lintas 3 desa yakni Nagrak, Mandalahaji dan Desa Sukarame; serta pembukaan jalan baru ke wilayah carik desa, yang semuanya itu dilaksanakan secara swadaya masyarakat.

“Kita juga membuka jalan baru ke wilayah carik desa. Semua itu dibangun dengan swadaya murni masyarakat,” ucap Suparman.

Pihaknya juga sukses melestarikan seni tradisi daerahnya, bahkan khusus tradisi Mapag Menak dijadikan sebagai ikon Desa Nagrak.

“Di kita ada beberapa sanggar seni, seperti pencak silat, kesenian Mapag Menak semacam upacara adat untuk menyambut tamu dari kabupaten, propinsi dan lainnya, bahkan upacara adat ini jadi ikon Desa Nagrak,” tuturnya.

Dengan keberhasilan keberhasilan itu, pihaknya optimis bisa meraih juara BBGRM Tingkat Propinsi Jabar.

“Insyaalloh, kita sudah melakukan semua yang menjadi harapan dan kemampuan kita. Kita bukan semata mengejar reward, tapi mengejar bahwa semangat juang masyarakat telah dibuktikan bahwa kita harus mempertahankan budaya gotongroyong. Sebagai daerah pinggiran, daerah perbatasan dengan kehutanan, kita ingin buktikan bahwa semua elemen masyarakat dari kalangan agama, remaja, kalangan budaya, semua terlibat dalam gotongroyong, baik dalam kegiatan jumsih, kegiatan hari minggu atau kegiatan warga yang sudah rutin,” jelasnya.

Dia juga mengungkap, Desa Nagrak dengan jumlah penduduk 14.000-an jiwa dan luas wilayah mencapai 798 hektar yang terdiri dari 17 RW, 74 RT, serta 4 dusun ini, ternyata tidak memiliki jalan kabupaten, melainkan hanya punya jalan desa sepanjang 29 KM. Hal ini menunjukkan pembangunan jalan sejak dulu dilakukan secara gotongroyong. Karena itu, semangat gotongroyong menjadi ikon keseharian warga desanya.

“Kita punya panjang jalan desa atau jalan lingkungan seluruhnya 29 KM, sebab kita tidak punya jalan kabupaten karena orangtua kita dulu membangun jalan dengan swadaya gotongroyong, makanya budaya gotongroyong terus kita pertahankan menjadi sebuah ikon bahwa pembangunan di kita tidak lepas dari gotongroyong,” pungkas Kades Suparman.