Beranda Jabar Karaton Sumedang Larang Kembali Kaji Kitab Kuno Karya Pangeran Mekah: Murid Jadi...

Karaton Sumedang Larang Kembali Kaji Kitab Kuno Karya Pangeran Mekah: Murid Jadi Guru Agung Abah Sepuh

Jabarpress.com, Sumedang–Karaton Sumedang Larang (KSL) kembali mengkaji sejarah kitab kuno karya Pangeran Mekah di Srimanganti, Minggu (2/5/2021) lalu. Kegiatan bekerjasama dengan Madrosah Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah Suryalaya Sirnarasa (MTQNSS) Kabupaten Sumedang.

Ketua Madrosah Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah Suryalaya Sirnarasa (MTQNSS) Kabupaten Sumedang H. Setiawan mejelaskan, kajian sejarah kitab kuno berlangsung pada malam lailatul Qodar 21 Romadhon 1442 H berbarengan dengan manaqib di Karaton Sumedang Larang.

“Mengkaji manaqib biasanya dilakukan pada minggu kedua setiap bulannya, dan saat ini dilakukan pada minggu pertama sehubungan bertepatan dengan bulan suci Romadhon pas malam lailatul qodar, dari mulai berjamaah sholat asar, amaliah melaksanakan dzikir, khotaman, usai berjamaah Solat Magrib dilanjutkan Manakib. Sementara silsilah atau tawasul dipimpin langsung oleh KH Adiyadi S.Ag, (ajengan kembar) selanjutnya pembacaan manqobah dipimpin oleh KH. Lukman Asyidiq Wakil Talkin dari MTQNSS Bandung, kegiatan berlangsung khidmat,” ujarnya.

H. Setiawan menyampaikan pesan singkat dari pangersa Abah Aos.

“Ketika kita duduk tekun pasti akan tegak berdiri, demikian pun ihwan wal ahwat apabila dalam melaksanakan amaliyah yang diberikan oleh gurunya harus dilaksanakan secara kafah, maka dalam dirinya sudah ketemu semuanya yang ada di dunia ini, kita butuh dzikir, baik zikir zahar (lisan) maupun zikir sirr (khopi) untuk ketena gan kolbu,” imbuhnya.

DR. KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD., lebih akrab disapa Abah Jagat Al Kholis Pembina Pusat MTQNSS Suryalaya Sinarasa mengatakan, dalam kajian sejarah naskah kuno ini bahwa Pangeran Mekah adalah murid jadi guru agung Abah Sepuh.

Hal ini dapat dilihat dari sosok Pangeran Mekah yang fenomenal pada zamannya. Perilaku dan tutur katanya menjadi suri tauladan banyak orang.

“Murid jadi guru agung Pangersa Abah Sepuh adalah Pangeran Mekah, profil dari pengamal ini adalah beliau paling kaya setatar Sunda, karena tujuan dari pengamal ajaran ini adalah untuk kemajuan lahiriah dan sejahtera batiniah,” Ujar Abah Jagat kepada Jabarpress.com.

Abah Jagat menyebut, bahwa amalan TQN Suryalaya-Sirnarasa ini merupakan amalan raja-raja. Dia berharap dengan adanya pertemuan raja adat nusantara di Sumedang ini menjadi sebuah momen penting untuk kebangkitan Sumedang.

“Ketika kita Ma’ripat kepada Alloh SWT, kita selalu belajar mengkaji ilmu Thorikoh qodiriyah naqsabandiyah serta ilmu ketasawupan maka aku berkata sesuatu jadi, maka jadilah. Itu adalah ungkapan saciduh metu saucap nyata,” katanya.

Tokoh Muda Raden Luky Sumawilaga, Radya Anom Karaton Sumedang Larang (KSL), menjelaskan, bahwa mengkaji manuskrip sejarah kitab kuno itu harus terus dilakukan pada setiap bulannya. Tidak lain dalam ibadah ini hanya untuk mengharap ridho Alloh Swt.

“Diharapkan kita semua mendapat rahmat Alloh Swt. Saya terimakasih kepada semua pihak, ihwan wal ahwat yang telah membuka bait-bait manuskrip yang penuh dengan keilmuan sehingga dapat mewarnai Karaton Sumedang Larang (KSL). Dalam ilmu kasumedangan, ada yang namanya kesabaran dan keikhlasan, ini adalah ilmu ketunggalan, merupakan ilmu kesumedangan, sesuai apa yang dipaparkan oleh Ajengan Kembar,” imbuhnya

“Mengkaji sejarah kitab kuno ini sudah menginjak ke-4 kalinya, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan serta memasuki malam ke 21, maka ditandai dengan memotong tumpeng. Ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Alloh Swt, khususnya ikhwan TQN PP Suryalaya-Sirnarasa yang telah menggenggam Lailatul qodar. Kita bertasyakur kepada sang maha pencipta Alloh Swt, karena telah menggenggam lailatul qodar, maka pada malam 21 Ramadhan ini diwarnai dengan potong tumpeng di madrosah masing-masing. Hal ini juga merupakan himbauan dari guru Agung, Syaikh Mursyid, Pangersa Abah Aos,” pungkasnya.

(Ajat sudrajat)