Beranda Hukum Tokoh Warga Binong Kritik Biaya Seragam Sekolah Rp2,250 Juta/Orang dan Uang Sumbangan...

Tokoh Warga Binong Kritik Biaya Seragam Sekolah Rp2,250 Juta/Orang dan Uang Sumbangan Infrastruktur Rp900.000/Siswa: Tidak Tepat Di Masa Pandemi Covid-19 Ada Biaya Sebesar Itu, Buat Kebutuhan Hidup Saja Susah!

Jabarpress.com, Subang–Terkait adanya biaya seragam siswa sebesar Rp2.250.000 per orang dan uang sumbangan infrastruktur sebesar Rp900.000 per siswa di SMKN 1 Binong, mendapat kritikan dari tokoh masyarakat Binong yang juga warga lingkungan sekolah, Wawan Setiawan.

Kepada Jabarpress.com, Jum’at (5/2/2021), Wawan menilai, adanya biaya seragam sekolah dan uang sumbangan imfrastruktur sebesar itu di masa kondisi pandemi covid-19, sangat tidak tepat. Karena potensial menambah beban kebutuhan hidup masyarakat, khususnya para orangtua siswa.

“Sekarang ini situasi masih pandemi covid-19, masyarakat lagi susah. Adanya biaya seragam dan uang infrastruktur hingga jutaan rupiah, menurut saya, sangat tidak tepat. Pandemi ini belum selesai, jangankan buat biaya sebesar itu, buat biaya hidup aja susah,” ujar Wawan.

Apalagi, sambung dia, kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa masih berlangsung secara daring, online, dan belum dilaksanakan secara tatap muka. Maka, keberadaan seragam sekolah yang lazim untuk KBM tatap muka, menjadi hal mubazir.

“Karena itu kalau pengadaan biaya seragam tetap dilaksanakan, di masa pandemi ini sungguh tidak tepat, seolah kesannya ‘dipaksakan’,” ucap Wawan.

Pihaknyapun menegaskan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan instansi terkait untuk menyampaikan persoalan biaya seragam sekolah dan dana sumbangan imfrastruktur di SMKN 1 Binong tersebut.

Sebelumnya diberitakan, terkait adanya keluhan soal biaya seragam siswa sebesar Rp2.250.000 per orang dan uang sumbangan infrastruktur sebesar Rp900.000 per siswa, Kepala Sekolah (Kasek) SMKN 1 Binong, Delik, angkat bicara.

Saat ditemui Jabarpress.com, Jum’at (5/2/2021), Delik membenarkan adanya biaya seragam siswa dan uang sumbangan infrastruktur untuk para siswa SMKN 1 Binong Kelas X. Tapi, ungkap dia, biaya seragam tersebut merupakan kebijakan kepala sekolah sebelumnya dan sifatnya tidak diwajibkan bagi siswa yang tidak mampu.

Dia menerangkan, untuk dana sumbangan infrastruktur, itu sifatnya sumbangan, sukarela, besarnya Rp900.000 per siswa Kelas 1 (Kelas X). Uang sumbangan siswa ini digunakan untuk membangun infrastruktur sekolah, diantaranya bangun pos satpam, rehab kerusakan, dan infrastrukturr lainnya.

“Adapun biaya seragam sekolah sebesar Rp2.250.000 per siswa Kelas 1, ini sebetulnya kebijakan Kepsek sebelumnya, Pak Gatot. Biaya ini digunakan untuk pengadaan seragam sekolah secara komplit, termasuk sepatu, kaos olahraga, topi, atribut dan lainnya. Seragam ini yang megang koperasi sekolah. Jadi, para siswa ngambilnya (paket seragam sekolah) ke koperasi,” papar Delik.

Namun, tegas Delik, biaya seragam sekolah tersebut bersifat tidak wajib khususnya bagi siswa tidak mampu.

“Seragam ini bagi yang mampu saja. Bagi siswa yang enggak mampu, ya enggak apa apa,” ucapnya.

Dia menyebut, dari total sekitar 200-an siswa Kelas 1, sudah banyak yang mengambil seragam ke koperasi.

“Cuma saya enggak tahu pasti jumlahnya berapa orang yang sudah ambil seragam. Datanya di koperasi,” kata dia.

Saat ini, jumlah total siswa SMKN 1 Binong sebanyak 560-an orang yang tersebar di 5 kejuruan, diantaranya kejuruan akuntansi, komputer, pertanian, dan otomotif.

Selanjutnya, Delik menegaskan, untuk para siswa Kelas 1 yang tidak mampu terkait biaya seragam sekolah sebesar Rp2.250.000 per orang, pihaknya akan mengupayakan mereka supaya punya seragam melalui bantuan zakat dan beasiswa KIP.

“Nanti kita upayakan agar yang enggak mampu pun bisa punya seragam,” pungkasnya.