Beranda Ekonomi Dialog Peluang Bisnis di Pesantren, Ketua HIPSI Subang: Tak Cuma Ngaji, Santri...

Dialog Peluang Bisnis di Pesantren, Ketua HIPSI Subang: Tak Cuma Ngaji, Santri Harus Pintar Usaha

Jabarpress.com, Subang-Pondok Pesantren Darul Falah menggelar Dialog Peluang Bisnis Santri, Ustadz dan Peserta Pelatihan BLK Komunitas di kompleks pesantren di Desa Cimanggu Kecamatan Cisalak, Jum’at (24/7/2020).

Dialog yang dihadiri Kabid Disnakertrans Subang Estutianto, Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Subang KH Maman S Jamaludin, Muspika Cisalak dan aparatur Desa Cimanggu serta menggunakan protokol kesehatan covid19 ini, menampilkan sejumlah narasumber. Diantaranya, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Subang Nurdin Hidayat dan motivator wirausaha Yusuf Rizal.

Pimpinan Ponpes Darul Falah Desa Cimanggu Kecamatan Cisalak, Ust Ridwan Hartiwan, berharap, melalui dialog ini, para santri maupun peserta pelatihan BLK komunitas bisa termotivasi dan mendapat bekal wawasan untuk berwirausaha.

“Kita di BLK Komunitas terus menggelar kegiatan-kegiatan, meskipun support anggaran pemerintah tahap berikutnya belum terealisasi. Kita bahkan sudah menghasilkan produk sendiri, diantaranya produksi masker untuk bantu pemerintah menangani pandemi covid-19,” ujar Ust Ridwan.

Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Subang, Nurdin Hidayat, dalam presentasinya, mengatakan, pondok-pondok pesantren (ponpes) memiliki banyak sekali peluang bisnis dalam berbagai aspek. Misalnya bisnis kuliner, jasa, fashion, kerajinan dan sebagainya.

Persoalannya, sambung Nurdin, banyak pesantren yang punya produk komersial atau berprospek bisnis, namun tidak memiliki akses terhadap pasar atau tidak memiliki manajemen marketing (pemasaran) yang handal.

“Hasil pengamatan kami, tidak sedikit pesantren yang punya produk, tapi tidak punya pasar, tidak punya manajemen marketingnya, sehingga kesulitan,” ujar Nurdin.

Dia menuturkan, sejak organisasi HIPSI berdiri di Subang pada 2016 dan dirinya dipercaya memimpin HIPSI pada 2018, pihaknya sudah melakukan asistensi wirausaha kepada 20 lebih pesantren di Subang.

Hasilnya, banyak pesantren telah memiliki produk usaha. Misalnya, ada pesantren yang penduduk kampungnya berprofesi sebagi pengrajin kasur lipat dan produknya dipasarkan ke berbagai daerah. Ada pula ponpes yang memproduksi ayunan dan dipasarkan ke tempat-tempat wisata.

“Namun sebagian besarnya punya produk tapi tidak punya pasar. Ini yang sedang kita bantu,” ucapnya.

Karena itu, pihaknya bersyukur saat Gubernur Jabar Ridwan Kamil meluncurkan program One Pesantren One Produk (OPOP) yang diantara tujuannya untuk memasilitasi dan membantu memberdayakan pesantren-pesantren yang memiliki produk usaha.

“Melalui OPOP, Kang Emil–sapaan Gubernur Ridwan Kamil–ingin membantu fasilitasi ponpes-ponpes yang memiliki produk usaha untuk dipasarkan,” paparnya.

Pihaknya pun mengajak para santri dan elemen pesantren agar tidak sekedar mengembangkan skill keilmuan keagamaan, namun juga skill kewirausahaan.

“Tidak sedikit para santri yang bingung menghadapi kehidupan pasca lulus dari pesantren, padahal mereka sudah dibekali ilmu oleh kyai-nya. Karena itu, para santri jangan cuma pandai mengaji, tapi juga harus pandai berbisnis, pintar berwirausaha. Seperti kata Kyai Maman (Ketua FPP KH Maman Jamaludin), santri harus pintar ‘ngaji dan ngejo’ (memasak, berusaha),” pungkas Nurdin.