Beranda Ekonomi BPS Rilis Ekonomi Indonesia 2020: Ekspor Turun, Impor Naik, Penduduk Miskin Bertambah

BPS Rilis Ekonomi Indonesia 2020: Ekspor Turun, Impor Naik, Penduduk Miskin Bertambah

BERBAGI

Jabarpress.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis beberapa indikator strategis terkini terkait: (1) Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Juni 2020, (2) Perkembangan Upah Pekerja/Buruh Juni 2020, (3) Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2020, dan (4) Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia Maret 2020.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS, Suhariyanto dalam siaran persnya di BPS, Rabu (15/07/2020).

Terkait perkembangan ekspor dan impor per Juni 2020, BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia Juni 2020 mencapai US$12,03 miliar atau meningkat 15,09 persen dibanding ekspor Mei 2020. Demikian juga dibanding Juni 2019 meningkat 2,28 persen.

Untuk ekspor nonmigas Juni 2020 mencapai US$11,45 miliar, naik 15,73 persen dibanding Mei 2020. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Juni 2019, naik 3,63 persen.

Namun secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juni 2020 mencapai US$76,41 miliar atau menurun 5,49 persen dibanding periode yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$72,43 miliar atau menurun 3,60 persen.

“Ekspor nonmigas Juni 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,43 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,37 miliar dan Jepang US$0,99 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,88 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,00 miliar,” papar Suhariyanto.

Sedangkan terkait perkembangan impor, BPS mencatat, nilai impor Indonesia Juni 2020 mencapai US$10,76 miliar atau naik 27,56 persen dibandingkan Mei 2020, namun dibandingkan Juni 2019 turun 6,36 persen.

Untuk impor migas misalnya, pada Juni 2020 ini senilai US$0,68 miliar atau naik 2,98 persen dibandingkan Mei 2020, namun dibandingkan Juni 2019 turun 60,47 persen.

“Sedangkan impor nonmigas Juni 2020 mencapai US$10,09 miliar atau naik 29,64 persen dibandingkan Mei 2020. Dibandingkan Juni 2019 juga naik 3,12 persen. Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juni 2020 adalah Tiongkok senilai US$18,14 miliar (28,63 persen), Jepang US$6,09 miliar (9,61 persen), dan Singapura US$4,21 miliar (6,64 persen),” jelasnya.

Terkait perkembangan upah pekerja/buruh per Juni 2020, BPS mencatat ada kenaikan.

Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan. Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja. Upah riil buruh tani adalah perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga perdesaan, sedangkan upah riil buruh bangunan adalah perbandingan upah nominal buruh bangunan terhadap indeks harga konsumen perkotaan.

BPS mencatat, upah nominal harian buruh tani nasional pada Juni 2020 naik sebesar 0,19 persen dibanding upah buruh tani Mei 2020, yaitu dari Rp55.396,00 menjadi Rp55.503,00 per hari. Sementara itu, upah riil buruh tani mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen.

“Sedangkan upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2020 naik 0,06 persen dibanding upah Mei 2020, yaitu dari Rp89.684,00 menjadi Rp89.737,00 per hari. Sementara upah riil mengalami penurunan sebesar 0,12 persen,” ungkapnya.

Angka Kemiskinan Naik

Terkait profil kemiskinan di Indonesia periode Maret 2020, BPS menyebut, persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.

“Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019,” ucap Suhariyanto.

Dia mengatakan, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 6,56 persen, naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60 persen, naik menjadi 12,82 persen pada Maret 2020.

Dia melanjutkan, Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp335.793,- (73,86 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp118.859,- (26,14 persen).

“Pada Maret 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.118.678,-/rumah tangga miskin/bulan,” katanya.

Adapun terkait tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia per Maret 2020, BPS mencatat, pada Maret 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,381. Angka ini meningkat 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,380 dan menurun 0,001 poin dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,382.

Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,393, naik dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,391 dan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,392.

Selanjutnya, Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,317, naik dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,315 dan tidak berubah dibanding Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,317.

“Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,73 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2020 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,93 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,62 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah,” pungkasnya.

BERBAGI