Beranda Daerah Jumlah Balita Stunting Capai 2.476 Orang, Pemkab Subang Percepat Pencegahan

Jumlah Balita Stunting Capai 2.476 Orang, Pemkab Subang Percepat Pencegahan

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Pemkab Subang segera melakukan langkah-langkah percepatan untuk mencegah membanyaknya jumlah balita penderita stunting (gizi buruk) di Kabupaten Subang.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada tahun 2017, jumlah balita stunting (balita yang mengalami gizi buruk) mencapai 3,5% dari total jumlah balita Subang. Angka ini menurun di tahun 2018 menjadi 3,2%.

Di tahun 2019, angka tersebut kembali turun menjadi 2,6%, yakni dari total 112.777 balita, jumlah penderita stunting sebanyak 2.476 balita.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Rembuk Stunting secara virtual yang digelar Selasa (7/7/2020) dipimpin Bupati Subang H Ruhimat dan diikuti oleh Forkompinda Kabupaten Subang, Ketua TP PKK, Kecamatan, Puskesmas, RSUD, OPD terkait dan organisasi wanita.

Kepala BP4D Kabupaten Subang, Sumasna, dalam paparannya menyampaikan, penyelenggaraan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan stunting.

Dalam pelaksanaannya, upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting dilakukan mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi.

Ada 8 (delapan) tahapan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting, yakni Melakukan identifikasi sebaran stunting, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi; Menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi; Menyelenggarakan rembuk stunting tingkat kabupaten/kota; Memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi; Memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu pemerintah desa dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa; Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten/kota; Melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kabupaten/kota; dan Melakukan review kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir.

Bupati Subang H Ruhimat menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan rembuk stunting dengan metode virtual.

“Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian penting dari aksi percepatan penurunan stunting dari 8 aksi yang tidak boleh terlewatkan. Rembuk stunting merupakan sebuah wadah musyawarah semua pihak dalam rangka menurunkan prevalensi dan intervensi penanganan stunting, karena itu saya menghimbau agar rembuk stunting dilakukan dengan serius dan menghasilkan komitmen yang terbaik dalam upaya mewujudkan Zero stunting di Kabupaten Subang,” tegas Ruhimat.

Bupati menyampaikan terimakasih atas kerja keras seluruh pihak yang telah berupaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Subang dari 3,26% di tahun 2018 menjadi 2,6% di tahun 2019.

Bupati Ruhimat menginstruksikan penanganan stunting di Kabupaten Subang yaitu kaji secara mendalam permasalahan yang terjadi dalam menurunkan angka stanting, lakukan analisis yang tepat dalam merumuskan kebijakan penting, susun kegiatan yang tepat dan menyeluruh, serta bangun komitmen publik dalam mewujudkan masyarakat Kabupaten Subang sehat dengan meningkatkan kualitas-kualitas gizi anak menuju stunting tahun 2023.

“Saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Tim Satgas Stunting Kabupaten Subang dan perangkat daerah yang terlibat dalam kegiatan rembuk stunting,” pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut turut ditandatangani berita acara rembuk stunting dan penandatanganan dukungan atau komitmen bersama percepatan penurunan stunting di Kabupaten Subang.

Sekadar diketahui, dilansir Kompas.com, stunting atau gizi buruk adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Penyebab Stunting

Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:
1. Kurang gizi kronis dalam waktu lama
2. Retardasi pertumbuhan intrauterine
3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
5. Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.

BERBAGI