Beranda Hukum Usai Peristiwa Salah Paham Pengeroyokan, Warga Desa Tegalluar Kapok Jaga Kamtibmas

Usai Peristiwa Salah Paham Pengeroyokan, Warga Desa Tegalluar Kapok Jaga Kamtibmas

BERBAGI

Jabarpress.com, Bandung-Kasus dugaan pengeroyokan 3 karyawan sebuah perusahaan logistik yang terjadi Jum’at silam, 22 Mei 2020, saat mereka sedang mencari makan sahur di kawasan Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, masih berlanjut dan tengah ditangani kepolisian setempat. Dua warga pun sudah diamankan.

Atas kejadian tersebut, warga Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang meminta agar pengungkapan kasus dilakukan secara adil dan berimbang.

Sebab, mereka menganggap, kasus dugaan pengeroyokan itu terkesan menyudutkan warga yang saat kejadian itu tengah bersikap waspada menjaga kamtibmas di tengah pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pandemi wabah Covid-19.

Sehingga, ketika ada orang tidak dikenal masuk ke wilayah mereka lalu tiba-tiba ada teriakan ‘bangsat’, teriakan ‘maling’, wargapun menjadi reaktif dan tanggap.

Terlebih, menurut warga, daerah mereka memang sebelumnya disebut daerah rawan begal dan pencurian, sehingga warga menjadi reaktif ketika mendengar teriakan ‘bangsat’.

“Banyak warga menyesalkan atas reaksi yang tanggap terhadap ‘teriakan bangsat’. Tetapi kalau bakal begini jadinya, nanti kalau ada teriakan begitu, abaikan saja, karena akhirnya berbuntut pengeroyokan lalu berujung proses hukum,” keluh seorang warga Desa Tegalluar kepada Jabarpress.com.

Bahkan, sekitar 100-an lebih warga Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang yang berasal dari RW 8, 6 dan 14, sempat mengadakan pertemuan di Madrasah Asy Syifa untuk mengungkap kronologi sesungguhnya kasus tersebut.

Hasilnya, warga sepakat menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada Kantor Hukum Dark Justice Bandung dan mereka berharap kejadian ini tak terulang serta bisa diselesaikan dengan cepat.

Mereka juga menyesalkan berita-berita yang beredar yang terkesan menyudutkan mereka dan kades mereka. Sebab, dalam kejadian sesungguhnya, justru kades dan banyak warga telah membantu menyelamatkan ketiga karyawan tersebut dari amuk massa.

“Berita-berita yang beredar telah menyudutkan kami selaku warga dan kepala desa. Kejadian pengamanan yang dilakukan kades terhadap korban dimana korban dibawa ke rumah kades, tidak ada yang memberitakan,” paparnya.

Mereka menyebut, peristiwa itu bukanlah kesengajaan, tapi kesalahpahaman, sebab saat itu mereka sedang siaga covid-19, tingkat kewaspadaan tinggi juga diakibatkan adanya kejadian pencurian dan penodongan di kawasan itu sebelumnya.

“Kejadian itu bikin kami sebagai warga serba salah, di sisi lain kami diimbau menjaga keamanan daerah setempat termasuk daerah lingkungan kami di RW 14, karena sebelumnya terjadi pencurian dan penodongan, ditambah harus waspada masalah covid-19,” paparnya.

Wargapun berharap, kejadian itu diungkap secara berimbang dan adil. Sebab, saat peristiwa terjadi, terdapat hal hal yang mencurigakan warga dari ketiga korban pengeroyokan itu, seperti mobil yang ditumpangi mereka tidak ada plat nomer belakangnya serta dipacu dalam kecepatan tinggi diwaktu dini hari.

Saksi mata kejadian yang juga warga RT 3 RW 14 Desa Tegalluar, Hasan Suhendar, mengatakan, ketika itu massa memang berdatangan setelah ada teriakan bangsat atau maling melalui speaker masjid sehingga warga semakin banyak jumlahnya.

Melihat kondisi tersebut, Kades Tegalluar lantas mengunci pagar dan pintu rumahnya agar massa tak masuk ke dalam, sehingga bisa mencegah massa melakukan pemukulan.

Hasan menyebut, kades tak hanya menyelamatkan 3 korban dari upaya amuk massa, tapi juga mengobati mereka, membersihkannya dengan air hangat. Bahkan salah satu korban yang tidak menggunakan baju, diberi baju oleh kades.

“Saya menyaksikan sendiri kejadian tersebut, bahkan para korban mengucapkan ‘haturnuhun kang tos diamankan di bumi kades’ (terimakasih sudah diselamatkan di rumah kades). Bila tidak percaya, saya Hasan Suhendar warga Rt 03 Rw 14 siap dipertemukan dengan korban,” tegasnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ketua RW 14 Desa Tegalluar, Jajang. Dia mengaku sudah berusaha menjaga ketertiban dan menghindarkan amukan massa. Namun pihaknya menjadi heran saat upaya menyelamatkan para korban malah berujung seolah disalahkan.

Sementara itu, pengacara warga dari Kantor Hukum Dark Justice, Aji Saptaji, menegaskan akan melakukan langkah hukum atas kejadian tersebut.

“Kami akan mengambil langkah-langkah hukum atas segala kejadian tersebut, dari mulai kejadian hingga 2 warga yang memberikan keterangan dan kini mendekam di tahanan, akan kami lakukan upaya hukum secara normatif,” tegasnya.

Kuasa hukum lainnya, Sachrial, berharap, jangan sampai kepekaan warga atau alarm warga terhadap kejadian ini akhirnya tidak berfungsi dan apatis. Karena khawatir apa yang dilakukannya berakibat jadi korban hukum.

Pihaknya mengingatkan agar penegak hukum seksama dan teliti dalam mengambil tindakan ini, sebab kondisi ini terjadi karena ada sebabnya dan sebab itulah yang harus diurainya, sehingga bisa berlaku adil.

Apa yang dilakukan warga, sambung dia, adalah bagian dari kontrol sosial yang ada di masyarakat. Dimanapun keluyuran saat dini hari apalagi di kampung pada saat semua siaga menjadi kemestian setiap warga melakukan kontrol.

“Warga sesungguhnya membantu aparat dalam menjaga ketertiban umum. Kita semua tahu di Jabar ini penduduknya 42 juta lebih dengan kekuatan personil sebanyak 32 ribuan, artinya 1 orang personil untuk 1.500 orang. Maka, kontrol sosial masyarakat janganlah dibungkam dan diancam dengan akibat hukum. Tentu masalah ini bisa dibicarakan dengan segala upaya, tapi bila ini berlanjut ke ranah hukum, kami selaku kuasa hukum akan berupaya semaksimal mungkin. Kami harap warga tenang dan tetap guyub, jangan jera menjaga dan membantu pemerintah dan aparat menciptakan suasana kondusif,” pungkas Sachrial.

BERBAGI