Beranda Hukum Selamatkan 3 Karyawan dari Amuk Massa, Kades Tegalluar dan Warganya Malah Disalahkan

Selamatkan 3 Karyawan dari Amuk Massa, Kades Tegalluar dan Warganya Malah Disalahkan

Jabarpress.com, Bandung-Niat baik menolong orang tak selalu berbalas kebaikan, terkadang malah disalahkan.

Hal ini tampaknya dialami oleh Kepala Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Galih Hendrawan, dan beberapa warganya.

Perbuatan baik mereka menyelamatkan 3 karyawan sebuah perusahaan logistik dari keroyokan amuk massa, malah berujung di kepolisian. Kades sempat diperiksa dan dimintai keterangan. Sedangkan beberapa warganya ditahan.

Informasi yang dihimpun, peristiwa amuk massa yang dialami 3 pegawai perusahaan logistik itu terjadi Jum’at silam, 22 Mei 2020.

Saat itu, ketiga pegawai sedang mencari makan sahur di kawasan Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung.

Tetiba ada teriakan ‘bangsat’, sehingga ketiganya mengalami pengeroyokan oleh sejumlah warga. Peristiwa ini berlanjut di kepolisian. Sejumlah warga yang diduga mengeroyok, diamankan.

Namun, pihak yang menyelamatkan ketiga karyawan dari pengeroyokan itu, yakni Kades Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Galih Hendrawan, dan beberapa warganya, juga turut berurusan dengan polisi. Bahkan informasinya, ada yang ditahan.

Warga Desa Tegalluar pun kecewa. Sekitar 100-an lebih warga Desa Tegalluar dari RW 8, 6 dan 14, lantas mengadakan pertemuan di Madrasah Asyifa untuk mengungkap kronologi sesungguhnya dalam kasus dugaan pengeroyokan 3 pegawai itu.

Hasilnya, warga sepakat menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada Kantor Hukum Dark Justice Bandung dan mereka berharap kejadian ini tak terulang serta bisa diselesaikan dengan cepat.

“Banyak warga menyesalkan atas reaksi yang tanggap terhadap ‘teriakan bangsat’. Kalau bakal begini jadinya, nanti kalau ada teriakan begitu, abaikan saja, karena akhirnya berbuntut pengeroyokan,” keluh seorang warga.

Wargapun menyesalkan berita-berita yang beredar yang terkesan menyudutkan mereka dan kades mereka. Sebab, dalam kejadian sesungguhnya, justru kades dan beberapa warga telah membantu menyelamatkan ketiga karyawan tersebut dari amuk massa.

Adapun soal ‘teriakan bangsat’, warga menyebut hal itu karena di daerah mereka memang sebelumnya disebut dengan daerah rawan begal dan pencurian, sehingga warga menjadi reaktif ketika mendengar ‘teriakan bangsat’ yang memprovokasi warga saat kejadian.

“Berita-berita yang beredar telah menyudutkan kami selaku warga dan kepala desa. Kejadian pengamanan yang dilakukan kades terhadap korban dimana korban dibawa ke rumah kades, tidak ada yang memberitakan,” paparnya.

Sementara itu, saksi mata peristiwa tersebut yang juga warga RT 3 RW 14 Desa Tegalluar, Hasan Suhendar, mengatakan, ketika itu massa memang berdatangan setelah ada teriakan bangsat atau maling melalui speaker masjid sehingga warga semakin banyak jumlahnya.

Melihat kondisi tersebut, Kades Tegalluar lantas mengunci pagar dan pintu rumahnya agar massa tak masuk ke dalam, sehingga bisa mencegah massa melakukan pemukulan.

Hasan menyebut, kades tak hanya menyelamatkan 3 korban dari upaya amuk massa, tapi juga mengobati mereka, membersihkannya dengan air hangat. Bahkan salah satu korban yang tidak menggunakan baju, diberi baju oleh kades.

“Saya menyaksikan sendiri kejadian tersebut, bahkan para korban mengucapkan ‘haturnuhun kang tos diamankan di bumi kades’ (terimakasih sudah diselamatkan di rumah kades). Bila tidak percaya, saya Hasan Suhendar warga Rt 03 Rw 14 siap dipertemukan dengan korban,” tegasnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ketua RW 14 Desa Tegalluar, Jajang. Dia mengaku sudah berusaha menjaga ketertiban dan menghindarkan amukan massa.

Namun pihaknya menjadi heran saat upaya menyelamatkan para korban malah berujung seolah disalahkan.

“Maka kami heran, kenapa kami yang menjaga ketertiban dan menghindarkan amukan massa malah warga dan kades kami yang seakan menjadi bersalah,” protes Jajang.

Sementara itu, pengacara warga dari Kantor Hukum Dark Justice, Aji Saptaji, menegaskan akan melakukan langkah hukum atas kejadian tersebut.

“Kami akan mengambil langkah-langkah hukum atas segala kejadian tersebut, dari mulai kejadian hingga 2 warga yang memberikan keterangan dan kini mendekam di tahanan, akan kami lakukan upaya hukum secara normatif,” tegasnya.

Kuasa hukum lainnya, Sachrial, berharap, jangan sampai kepekaan warga atau alarm warga terhadap kejadian ini akhirnya tidak berfungsi dan apatis. Karena khawatir apa yang dilakukannya berakibat jadi korban hukum.

Sachrial juga mengingatkan agar penegak hukum harus seksama dan teliti dalam mengambil tindakan ini, karena kondisi ini terjadi karena ada sebabnya dan sebab itulah yang harus diurainya, bukan yang lain-lain sehingga bisa berlaku adil.

“Karena pada saat itu kebijakan PSBB Covid-19 adalah kebijakan yang sama-sama kita ketahui, masa perusahaan membiarkan karyawannya keluar pada jam bukan jam kerja. Tak hanya itu, pada saat kejadian, selain teriakan ‘bangsat’, kondisi mobil yang tanpa plat belakang dan bernopol B membuat seakan mencurigakan, ditambah salah satu dari tiga korban ada yang tak menggunakan baju. Hal-hal inilah yang turut mengakibatkan persoalan terjadi,” paparnya.

Dia juga mengatakan, bila perusahaan patuh pada kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan PSBB di masa pandemi Covid-19, maka kejadian ini tak akan pernah terjadi.

“Semua berawal dari ketidakpatuhan berhadapan dengan warga yang selalu siaga pada setiap perintah pemerintah hingga akhirnya terjadi seperti ini,” pungkas Sachrial.