Beranda Nasional Mengenal Sistem Pelayanan Kesehatan dalam Islam

Mengenal Sistem Pelayanan Kesehatan dalam Islam

BERBAGI

Oleh: Siti Aisah, S.Pd.*)

“Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 yang telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant dalam The Story of Civilization)

Sayangnya, Islam saat ini belum menjadi satu-satunya Way Of Life bagi tatanan kehidupan manusia. Kondisi saat ini yang masih berada dalam zona pandemi, memberikan dampak begitu besar. Mulai dari kesulitan ekonomi dan kesehatan. Namun, pada kondisi ini justru pemerintah menaikkan iuran BPJS yang seharusnya memberikan jaminan kesehatan secara gratis. Pasalnya, kenaikan ini terjadi di tengah masyarakat yang sedang menghadapi pandemi Covid-19, yang turut berdampak terhadap perekonomian mereka.

“Masyarakat sedang membutuhkan fasilitas jaminan kesehatan, sementara pandemi juga menciptakan peningkatan pengangguran dan angka kemiskinan. Masyarakat ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” tulis Agus Harimurti Yudhoyono melalui akun Twitter pribadinya pada Kamis (14/5/2020). (tribunnewsmataram.com, 15/05/2020)

Keputusan pemerintah kembali menaikkan iuran BPJS di masa wabah ini merupakan pil pahit yang dirasakan oleh masyarakat. Dilansir dari laman tempo.co (20/05/2020), awal Mei lalu, Jokowi kembali menaikkan iuran BPJS lewat Perpres No. 64 tahun 2020. Hal ini menuai kritikan dari berbagai pihak, karena Jokowi dianggap tidak mengindahkan putusan MA. Tapi, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, membela Jokowi dan menyebut Perpres 64 Tahun 2020 ini masih sesuai dengan putusan MA. Keputusan ini digugat oleh KPCDI (Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia).

Bagi komunitas pasien ini, pemerintah seharusnya mendengar pendapat MA bahwa akar masalah yang terabaikan yaitu manajemen atau tata kelola BPJS Kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dituturkan oleh kuasa hukum KPCDI Rusdianto Matulatuwa dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2020.

Keputusan ini menegaskan bahwa pemerintah memang tidak peduli terhadap kondisi rakyat. Bahkan di media sosial beredar komentar _stakeholder_ bahwa ketika masyarakat tidak mampu membayar iuran BPJS kelas 1, maka turunlah ke kelas di bawahnya dan begitu sampai ke kelas terbawah. Namun, netizen berkomentar lain untuk menanggapinya, yaitu ketika tidak bisa mensejahterakan masyarakat, maka turunlah dari jabatannya. Rakyat seyogyanya membutuhkan layanan kesehatan gratis yang berkualitas, apalagi di masa wabah dan kondisi buruk ekonomi saat ini. Namun, pemerintah malah membebani iuran BPJS yang semakin memberatkan.

Kebijakan ala kapitalis ini tentu sangat memprihatinkan. Berbeda dengan kebijakan kesehatan pada masa kejayaan terdahulu. Tinta emas peradaban Islam telah menulis tentang pelayanan kesehatan dalam sejarah Khilafah Islam. Hal ini bisa dilihat dari tiga aspek. _Pertama,_ tentang pembudayaan hidup sehat. Rasulullah Saw. manusia biasa yang diberi wahyu Allah Swt. melalui Jibril As. Sebagai sebaik-baik teladan bagi manusia.

Rasulullah pun dikenal sebagai manusia tersehat. Hal ini ditandai dengan tidak banyak riwayat yang menyatakan Rasulullah sering sakit-sakitan. Beliau memberikan contoh kebiasaan sehat sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menekankan kebersihan; makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengkonsumsi madu, susu kambing atau habatussaudah, dan sebagainya.

_Kedua,_ kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang kesehatan. Pendidikan kedokteran yang bebas biaya dan berdasarkan aqidah Islam akan mengeluarkan output yang berkompeten dan jauh dari petaka malpraktek. Berbagai penelitian tentang penyakit dan pengobatannya dibiayai sepenuhnya oleh negara dan dijamin kehalalannya. Berbagai inovasi kesehatan melalui produk-produknya berupa obat atau sarana prasarananya.

Hal ini dikarenakan kemajuan yang dicapai dalam dunia kedokteran adalah semata-mata mengikuti perintah Allah Swt. dalam menjaga urusan rakyat. Salah satu hadits yang terkenal berbunyi, _“Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” *(HR al-Bukhari).* Keberadaan obat untuk berbagai penyakit dan memenuhi segala urusan rakyat akan mendorong umat islam untuk membuat kemajuan ilmu dan teknologi dalam penelitian medis.

_Ketiga,_ tentang penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Kebijakan Khalifah tentang pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, termasuk kualitas dan kuantitas kompetensi para dokter terbaik. Pendidikan kedokteran yang bebas biaya dan berdasarkan aqidah Islam akan mengeluarkan output yang berkompeten dan jauh dari petaka malpraktek.

Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset. Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa. Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.

Semua rumah sakit di dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu. Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi menjadi prioritas pertama dan utama urusan individu masyarakat untuk menjaga kesehatan. Serta ada peran sinergis yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi kedokteran.

WalLâhu a’lam bi ash-shawab.

*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif

*) Tulisan merupakan opini penulis dan sepenuhnya tanggungjawab penulis

BERBAGI