Beranda Daerah Pendamping PKH Geram Bantuan Warga Miskin Disunat Ketua Kelompok

Pendamping PKH Geram Bantuan Warga Miskin Disunat Ketua Kelompok

Jabarpress.com, Subang-Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang diperuntukkan bagi keluarga miskin di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara diduga disunat oknum ketua kelompok.

Informasi yang dihimpun, aksi sunat bantuan PKH ini kerap terjadi di Dusun Galian Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara oleh oknum ketua kelompok, dengan dalih biaya administrasi dan transportasi.

BACA JUGA: Misteri Perempuan Cantik Penunggu Hotel Subang Plaza

Modus operandinya, sebelum bantuan dicairkan, kartu ATM para penerima PKH dikumpulkan oleh ketua kelompok. Setelah terkumpul semua kartu ATM, baru dicairkan di Brilink setempat oleh yang bersangkutan, setelah itu baru para penerima bantuan PKH dipanggil untuk mengambil uang di rumahnya, lalu disitu bantuan disunat.

BACA JUGA: Misteri Angkernya Jalan Cibuang Subang Yang Sering Dijadikan Tempat Pembuangan Mayat

“Pemotongan bantuan PKH ini vareatif dari Rp10 ribu sampai Rp25 ribu. Untuk pencairan bulan April tahun 2020 akibat dampak covid-19, ketua kelompok memotong ke penerima manpaat sebesar Rp10 ribu sampai Rp25 ribu, katanya buat biaya administrasi dan transfortasi,” ujar warga penerima bantuan.

BACA JUGA: Misteri Kakek Berjubah Putih di Makam Mbah Dongdo Subang

Saat dikonfirmasi, Pendamping PKH Kecamatan Pusakanagara, Wawan, membenarkan adanya pemotongan bantuan tersebut setelah dirinya croscek ke lapangan.

“Memang betul, saya dengar sendiri setelah saya mendatangi para penerima manpaat bahwa ketua kelompok meminta uang kepada penerima, ada yang dipinta Rp10 ribu sampai Rp25 ribu,” ujar Wawan kepada Jabarpress.com.

Pihaknya mengaku geram atas ulah nakal oknum ketua kelompok yang telah menyunat bantuan tersebut. Bahkan, dirinya sudah menegur yang bersangkutan agar tidak mengulangi perbuatannya.

“Secara pribadi saya telah menegur ketua kelompok Dusun Galian agar jangan sekali-kali lagi memotong bantuan PKH dan jangan mengumpulkan lagi kartu ATM untuk dicairkan sendiri oleh ketua kelompok, akan tetapi biarkan penerima yang langsung mencairkannya ke Brilink,” tegasnya.

Pihaknya lalu mengambil kartu ATM para penerima bantuan yang semula berada di ketua kelompok dan mengembalikannya kepada yang berhak.

“Kartu ATM yang berada di ketua kelompok telah saya ambil dan telah saya kembalikan kepada yang berhak, dan untuk lebih memudahkan pekerjaan ketua kelompok, khusus di Dusun Galian, kita telah membentuk ketua kelompok baru guna lebih meringankan beban, akan tetapi kita juga telah memberikan saran kepada para ketua kelompok bahwa jangan sesekali mengumpulkan kartu ATM, biarkan penerima mengambil sendiri,” pungkas Wawan.

(Asep H Ocay)