Beranda Daerah Seragam Batik Seharga Rp140 Ribu Tak Kunjung Beres, Ketua FTHMI: Sekretarisnya Lagi...

Seragam Batik Seharga Rp140 Ribu Tak Kunjung Beres, Ketua FTHMI: Sekretarisnya Lagi Sakit

Jabarpress.com, Subang-Pembuatan seragam batik untuk para guru honorer madrasah anggota Forum Tenaga Honorer Madrasah Indonesia (FTHMI) Kabupaten Subang yang berlangsung sejak tahun 2019, hingga kini dikabarkan belum rampung.

Biaya pembuatan seragam batik tersebut dipungut dari anggota FTHMI sebesar Rp140.000/orang.

“Tapi sampai sekarang memang belum beres pembuatannya,” ujar ujar Ketua Forum Tenaga Honorer Madrasah Indonesia (FTHMI) Subang, Saeful Hakim.

Pihaknya beralasan, terlambatnya penyelesaian pembuatan seragam batik ini karena terkendala Sekretaris FTHMI sedang sakit. Mengingat, ungkap Saeful, pembuatan seragam ini merupakan inisiatif dan dikelola oleh sekretaris.

“Setelah saya telusuri penyebabnya sekretaris kita, Pak H Romli, lagi sakit. Pembuatan seragam ini yang megang beliau,” paparnya.

Dia menyebut, biaya pembuatan seragam batik berasal dari dana masing-masing anggota FTHMI. Hingga kini, ucap dia, sudah ada sekitar 1.900 orang yang memesan pembuatan batik ke sekretaris.

“Biayanya Rp140.000/orang, sudah ada sekitar 1.900-an anggota yang pesan ke sekretaris,” jelasnya.

Selanjutnya dia menyampaikan, di tahun 2019 lalu, FTHMI mendapat kucuran dana sebesar Rp2,575 miliar dari Pemkab Subang, yang dialokasikan untuk honor (insentif) para guru honorer madrasah sebanyak 2.000 orang dari total 2.700 orang yang diusulkan.

“Masing-masing dapat honor sebesar Rp100.000/orang/bulan, atau sekitar Rp1.200.000/orang/tahun. Cuma memang ada 700 orang yang belum terakomodir. Mudah-mudahan tahun 2021 nanti, semuanya bisa terakomodir,” papar Saeful.

Sementara itu, Sekretaris FTHMI Subang, H Romli, membenarkan pembuatan seragam batik belum rampung seluruhnya.

“Kita bikin 1.900 buah, yang beres sudah lebih setengahnya, yang seragam pria malah sudah beres,” ungkapnya.

Pihaknya beralasan, terlambatnya penyelesaian pembuatan seragam batik karena terdampak situasi saat ini dimana banyak karyawan konveksinya pulang kampung.

“Karena dampak situasi sekarang beberapa karyawan pulang dan setelah koordinasi sama lingkungan khan tidak boleh kembali. Yang sudah (beres) mau dibagikan, tapi kata beberapa koordinator kecamatan ditunggu beres semua ajah. Jadi bukan berarti tidak digarap,” pungkasnya.