Beranda Jabar Memahami Jilbab Antara Tekstual dan Kontekstual

Memahami Jilbab Antara Tekstual dan Kontekstual

BERBAGI

Oleh: Siti Aisah, S. Pd*)

“Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu sedangkan jilbab itu bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup,” kata Ibu Sinta Nuriyah di chanel Youtube Deddy Corbuzier pada hari Rabu, 15 Januari 2020).

Pernyataan istri Gusdur ini tentu saja menghebohkan lini masa akhir-akhir ini. Selain itu, beliau pun menyatakan bahwa muslimah tidak wajib memakai jilbab jika kita memaknai Al-Quran dengan tepat. Walhasil tak berselang lama, pernyataan ini pun menjadi viral di dunia maya.

Pernyataan ini setali tiga uang dengan tujuan gerakan komunitas hijrah Indonesia yang viral dengan tagar no hijab day. No Hijab Day ini adalah gerakan tandingan dari World Hijab Day. Karena pada awal bulan Februari tepatnya pada tanggal 1 Februari diadakan perayaan yang mungkin masih asing di telinga kita yaitu World Hijab Day.

Agenda tahunan ini dipelopori oleh Nazma yang tinggal di New York, Amerika Serikat. Gerakan ini bermula dari sering dibullynya muslimah imigran asal Bangladesh ini di sekolahnya. Karena dialah satu-satunya perempuan yang mengenakan hijab.

Hal ini berlangsung hingga dia masuk perguruan tinggi. Muslimah ini mendapat tudingan sebagai teroris akibat dari peristiwa serangan 11 September 2001 lalu. Adapun tujuan dari gerakan ini adalah untuk mengajak dunia (muslimah dan non muslimah) untuk berhijab pada hari itu, dengan begitu akan tumbuh toleransi dan pemahaman terhadap agama Islam. Tak tanggung-tanggung perayaan ini dirayakan di hampir 190 negara.

Namun ternyata ada gerakan tandingan yang berlawanan dengan gerakan ini. Yaitu mengajak muslimah maupun Non Muslimah untuk membuka hijabnya selama sehari. Gerakan yang disebut tagar no hijab day ini dipelopori oleh Yasmine Mohammed, Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dari negeri Kanada.

Sedangkan di negeri mayoritas muslim ini gerakan No Hijab Day dikenalkan oleh komunitas Hijrah Indonesia. Komunitas ini menulis di laman Facebooknya: “Karena itulah, Hijrah Indonesia mengajak Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto-foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia, dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/ kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik instagram, facebook, maupun twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020”.

Istri Mantan Presiden ke-4 ini menegaskan bahwa memaknai arti hijab dan jilbab ini harus berdasarkan pada pendekatan kontekstual bukan pada pendekatan tekstual, karena menurut beliau saat ini banyak orang muslim yang mengartikan ayat Al-Qur’an dengan keliru. Hal ini dikarenakan mereka sudah melewati banyak terjemah dari berbagai sumber yang kemungkinan memiliki kepentingan pribadi dan maksud tertentu.

Perlu dipahami, pendekatan tekstual adalah sebuah pendekatan studi Al-Qur’an yang menjadikan lafal-lafal al-Qur’an sebagai obyek. Pendekatan ini menekankan analisisnya pada sisi kebahasaan dalam memahami al-Qur’an.

Walhasil sebagian kaum muslimin mengartikan bahwa memahami Islam belum cukup hanya lewat teks, tetapi juga harus memahami konteksnya. Keduanya harus dipahami dan tidak bisa ditinggalkan salah satu atau keduanya. Sehingga kalau hanya melihat teksnya, maka pemahaman Islam akan terpaku dengan teks dan seperti memutar kembali jarum sejarah (baca: kembali ke zaman unta).

Namun sebaliknya, kalau umat sekarang hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks, maka akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Maka dalam hal ini yang terbaik memahami islam yaitu dengan cara pendekatan moderasi atau jalan tengah. Artinya, memadukan pendekatan tekstual dan kontekstual.

Islam pada dasarnya dapat dipahami baik itu secara tekstual atau kontekstual. Allah Swt melengkapi manusia dengan akal. Sehingga peran akal di sini berfungsi sebagai dalil (alat bukti). Misalnya, keimanan seorang muslim terhadap keberadaan Allah Swt, lalu Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul-Nya dilanjutkan tentang al-Qur’an sebagai kalamullah yang didasarkan pada dalil ‘aqliy.

Artinya, akal sebagai dalil untuk membuktikan apakah Allah SWT itu ada atau tidak, al-Qur’an itu kalamullah atau tidak, dan Muhammad itu utusan Allah atau bukan. Sehingga dalam hal ini Islam mendudukkan akal sebagai dalil atau alat untuk menguji ketiganya. Namun, hal ini tidak serta merta mendudukkan akal di atas wahyu. Hal ini dikarenakan peran akal hanyalah sebagai alat untuk membuktikan kebenaran dan keshahihan ajaran Islam.

Walhasil jika sudah terbukti bahwa Allah itu eksis, Muhammad itu benar-benar utusan Allah, dan al-Qur’an adalah kalamullah, maka akal bisa menetapkan, bahwa semua hal yang terkandung di dalam al-Qur’an yang notabene berbahasa Arab merupakan kebenaran yang tidak bisa disanggah lagi. Semua yang terkandung di dalam al-Quran mesti diyakini kebenarannya dan diamalkan oleh seluruh kaum muslim.

Dengan demikian, memaknai istilah “jilbab” dalam Al-Qur’an, harus didasarkan pada tatanan panduan berbahasa Arab, jilbab dalam bentuk pluralnya yaitu “jalaabiib”. Dalam Al-Qur’an, ayat yang menyebut kata “jalaabiib” ada dalam firman Allah Swt (artinya), “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Arab: yudniina ‘alaihinna min jalaabibihinna). (QS. Al-Ahzab [33]: 59).

Imam Al Qurthubi berkata, “Kata jalaabiib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu baju yang lebih besar ukurannya daripada kerudung (akbar min al khimar). Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa jilbab artinya adalah ar ridaa (pakaian sejenis jubah/gamis). Ada yang berpendapat jilbab adalah al qinaa’ (kudung kepala wanita atau cadar). Pendapat yang sahih, jilbab itu adalah baju yang menutupi seluruh tubuh (al tsaub alladzy yasturu jamii’ al badan).” (Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, 14/107).

Di dalam Kamus Al-Muhith dinyatakan pula bahwa, jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Dalam Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung/gamis).”

Tak hanya itu hadis Nabi Saw tentang kewajiban berjilbab bagi muslimah adalah riwayat Ummu ‘Athiyyah yang berkata: Pada dua hari raya kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum Muslim dan doa mereka. Namun, wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Lalu Rasul saw. Bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dapat dipahami juga bahwasanya jikalau jilbab tidak wajib bagi muslimah, maka niscaya Nabi saw akan mengizinkan kaum muslimah keluar dari rumah mereka tanpa perlu berjilbab. Dengan demikian Hadis ini pun menegaskan pula kepada seluruh kaum muslimin yang yakin akan keberadaan Allah SWT, kebenaran Al-Quran dan Kerasulan Muhammad saw, bahwasanya berjilbab bagi para muslimah adalah sebuah kewajiban.

Wallahu a’lam bi-ashawab

*) Penulis adalah Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif (AMK) Jabar

BERBAGI