Beranda Hukum Kesepakatan Pinjam Uang Berubah Jadi Jual Beli, Pemilik Tanah Lapor Polda

Kesepakatan Pinjam Uang Berubah Jadi Jual Beli, Pemilik Tanah Lapor Polda

Jabarpress.com, Bandung-Gegara kesepakatan pinjam uang mendadak berubah menjadi jual beli (AJB) tanah, seorang warga Kota Bandung, H Budi Hartono, berencana melaporkan kasusnya kepada aparat Polda Jabar.

Didampingi Tim Kuasa Hukum dari Firma Hukum Dark Justice Bandung, warga Jl. Mekar Utama No 3A RT 02/06 Kelurahan Mekarwangi Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung ini, berencana melapor ke aparat kepolisian menyusul adanya pengosongan paksa bangunan dan penyerobotan tanah miliknya pada Senin (20/1/2020) lalu.

Tim Kuasa Hukum Budi Hartono, Sachrial, bersama kawan-kawan dari Firma Hukum Dark Justice Bandung, mengungkapkan, kasus dugaan penyerobotan tanah ini, bermula ketika kliennya, yakni Budi Hartono dan Uben, meminjam uang sebesar total Rp6 miliar kepada Pramono Prayitno alias Alex pada 2016 silam. Peminjaman itupun dipotong bunga 3 bulan pertama.

BACA JUGA: RM Sederhana Sajikan Ayam Bakar Terenak di Kalijati Subang

Saat itu, kesepakatan pinjam uang dituangkan dalam bentuk PPJB antara kliennya dengan pihak Pramono, dengan jaminan sertifikat tanah / SHM (Sertifikat Hak Milik). Selama rentang tersebut, kliennya rutin membayar pinjaman berikut bunganya.

Namun belakangan, kesepakatan pinjam uang dengan jaminan sertifikat tanah tersebut tiba-tiba berubah menjadi jual beli, dimana pihak Pramono yang sebelumnya meminjamkan uang mengaku telah membeli tanah itu dari kliennya.

Akibatnya, tanah milik kliennya berikut bangunan diatasnya diserobot dan dilakukan pengosongan paksa oleh pihak Pramono.

Sachrial mengatakan, kliennya merasa sangat keberatan atas tindakan pengosongan paksa tersebut, karena tidak merasa menjual tanahnya.

“Info yang tersebar di media infobdg, bahwa klien kami terlibat jual beli (tanah) sejak tahun 2017 dan tak kunjung mengosongkan lahannya hingga ada pengosongan paksa, itu semua faktanya tidak benar, pengosongan dan eksekusi tersebut tanpa keputusan pengadilan,” tegas Sachrial kepada wartawan saat melakukan Jumpa Pers di Firma Hukum Dark Justice Kota Bandung, Kamis siang (23/01/2020).

Dia menegaskan, pengosongan paksa bangunan dan dua bidang tanah milik kliennya dengan dalih jual beli yang dilakukan pada tahun 2017 adalah tidak benar. Pihaknya berencana melaporkan tindakan tersebut kepada aparat Polda Jabar.

“Insyaalloh, besok kita lapor ke Polda,” ucap Sachrial.

Budi Hartono, selaku pemilik lahan dan bangunan tersebut, menyampaikan bahwa persoalan tersebut sejak awal bukanlah urusan jual beli, namun soal utang-piutang.

“Ini memang bukan jual-menjual aset tetapi yang dilakukan adalah pinjam meminjam dana, pinjam dana untuk modal usaha dimana peminjaman awal itu Rp6 miliar dipotong bunga 3 bulan pertama, dan ini anehnya sekarang ini pokok dan bunganya harus ada (dibayar) senilai Rp9 miliar,” keluhnya.

Menurut Budi, tuntutan pembayaran utang plus bunga sebesar Rp9 miliar dengan melakukan pengosongan paksa lahan dan bangunan tidak sebanding dengan nilai aset tersebut.

“Bayangkan saja, nilai jual per meternya sekarang Rp30 juta, jika dikalikan dengan luas lahan 1.700 M2 maka aset ini senilai sekitar Rp50 miliar, apakah ini pantas dijadikan dasar jual beli? Tentu tidak, karena jual beli tanah harus mengacu kepada NJOP,” tegas Budi.

Sementara itu, jumpa pers turut dihadiri oleh tim kuasa hukum lainnya dari Firma Hukum Dark Justice Bandung, yakni Aji Saptaji, Makolin Sinaga, Naga Sentana, dan Sony Sontasa.