Beranda Pendidikan Kiprah Nurhayati, S.Pd Dari Penari Hingga Menjadi Guru, Sempat Melanglang Buana Ke...

Kiprah Nurhayati, S.Pd Dari Penari Hingga Menjadi Guru, Sempat Melanglang Buana Ke USA, Jerman Hingga Uzbekistan

BERBAGI

SUMEDANG-Kepala SDN 3 Tanjungsari merasa bersyukur bisa diberi kesempatan menjadi seorang yang berbakti didinia Pendidikan, hal itu diungkap Nurhayati S.Pd Kepala Sekolah SDN 3 Tanjungsari kecamatan Tanjungsari kabupaten Sumedang saat dimintai Tanggapab teekait Hari ulang tahun PGRI yang ke 74.

“Kami bersukur kepada Allah SWT karena sa’at ini alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada masyarakat dan menjadi seorang Kepala Sekolah, ini menjadi pengabdian kami di sekolah tentu untuk dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di kabupaten Sumedang,” ungkap lulusan SPG Sumedang tahun 1983 ini.

Menurut ibu yang akrab dipanggip Lia ini, karirnya sebenarny dimulai dari seni tari dimana sang kepala sekolah ini pernah belajar di ASTI atau STSI saat ini. Mengabdikan diri didunia pendidikan saat ini tak lepas dari filosofis menari sendiri, seni gerak dan upaya membentuk karakter melalu pendidikan dan budaya.

“Mungkin banyak yang bertanya kenapa saya mengambil jurusan tari karna saya sangat senang menari karna budaya kita salah satunya seni tari sekaligus Melestarikan Budaya leluhur kita, dan budaya membentuk karakter diantaranya melalui duni pendidikan,” ungkapnya.

Lanjut Nurhayati, dia yang lulus dari ISBI, pada tahun 1986 dan alhamdulilah pada tahun 1985 sampai tahun 2013 saya menjadi pengajar dan penari di STI Bandung.

“Bersama rekan saya  Ibu Indrawati lukman kami berdua kesana kemari mencari mencari ilmu dan pengalaman akhirnya pada suatu hari saya ada panggilan ke luar negri ke Texas Amerika Serikat  pada tahun 1987,  juga dalam rangka exspo pada tahun 1988 kami pergi ke Jerman, setelah itu kami pergi Jerman kembali dalam rangka persahabatan bandung dan jerman pada tahun 1990,  kami juga pergi ke Uzbekistan dan terkahir pergi pada tahun 2000 ke Belanda,” tuturnya,” tuturnya.

Aktif didunia pendidikan dan menjadi seorang pendidik di lingkungan dinas pendidikan kabupaten Sumedang dengan menjadi pegawai negeri membuatnya mulai membatasi aktivitasnya.

“Alhamdulilah saya di angkat menjadi PNS Profesi sebagai seorang Guru di  SDN 1 Tanjungsari Kec. Tanjungsari Kab. Sumedang pada tahun 1994 dan semenjak itu kegiatan tari yang sangat saya sukai mulai di batasi dan keluar dari komunitas tari dan mulai sibuk mengajar di sekolah,” imbuhnya.

Tak Tahan Meninggalkan Dunia seni tari, Nurhayati Membuka Sanggar Tari

Sempat dapat kepercayaan untuk mengajar tari di STI Bandung sampai tahun 2015 pomos menjadi guru dan

“Saya berinisiatif membuka sanggar tari untuk tujuan melestarikan seni tari budaya leluhur karna saya sangat cinta terhadap budaya dan mulai merintis pada tahun 2006 Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa berdiri walau belum pernah pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah dan masih bisa berdiri hingga sekarang karna mendapatkan bantuan dan dukungan dari Kecamatan Tanjungsari untuk bisa berlatih menggunakan sarana pendopo Kecamatan Tanjungsari,” ungkapnya.

Daei masa kemasa sanggar Tari yang dipimpinnya juga menuai prestasi hingga tingkat nasional bahkan mengikuti tari-tari kolosal yang diikuti ribuan penari dalam berbagai momen kegiatan.

Awal mula kecamatan di pimpin oleh Bp Aoh, Bp Dedi haris, Bp Deni tandrua, Bp Tatang, Bp Herman, dan sekarang Ibu Ida. Dan prestasi kami selama berlatih di sanggar kami mendapatkan prestasi juara Tkt Nas, acara Kaulinan Barudak, juara Flsn, tingkat Kabupaten dan Impen lomba jaipongan yang di adakan boleh bermacam-macam, Mengikiti tari masal hingga 5000 penari keser bojong, 6000 penari ronggeng geber dan kemarin penari 500 hayam ngupuk yang akan di adakan

“Termasuk di Kabupaten Sumedang dan tahun ini dalam rangka HUT PGRI yang ke 74 alhamdulilah kami dapat menari jaipongan hayam ngupuk bersama siswi SD dan SMP se Kecamatan Tanjungsari terbanyak 150 anak dari 4 Sanggar, saya Sambil menjabat Kepala Sekolah  di SD 3 Tanjungsari yang baru ditempati sejak April lalu,” bebernya.

Nurhayati memiliki obsewi menjadikan sekolah yang dipimpinnya terdepan mengusung sekolah berbasis seni dan budaya sesuai dengan latar profeaibdan karirnya dari masa ke masa.

“Ingin mengangkat sekolah yang saya pimpin ini menjadi prioritas berbasis budaya seni sesuai dengan profesi saya dengan latar belakang pendidikan di bidang seni saya sangat berharap semoga kedepannya bisa terwujud dan itu tidak mudah tanpa bantuan dan dukungan dimulai dari kekompakan bersama dari semua kalangan baik guru, orang tua dan komite sekolah dan semua stakeholder yang ada,” pungkasnya.

Dia pun berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap dunia seni dan sekolah yang dipimpinnya saat ini sebagai obsesi dalam melestarikan seni dan budaya Sunda yang wajib dijaga oleh semua.***

E Kusnadi

BERBAGI