Beranda Hukum Status Tanah Kembali Diungkit, Ahli Waris Warga Desa Padaasih Tuding Kades Bikin...

Status Tanah Kembali Diungkit, Ahli Waris Warga Desa Padaasih Tuding Kades Bikin Resah

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Sejumlah warga Desa Padaasih Kecamatan Cibogo, khususnya para ahli waris Kombor, mengeluhkan diungkitnya kembali status tanah yang dulu dimiliki orangtua mereka, yakni almarhum Kombor.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, mencuatnya kembali persoalan status tanah yang terletak di Kampung Segrang RT 15/06 Blok 8 tersebut, ditandai dengan adanya surat undangan dari pihak Desa Padaasih yang ditujukan kepada para ahli waris Kombor.

Meski surat yang diteken oleh Kades Nana Suryana isinya terkait perlunya musyawarah, namun mereka menduga hal itu berkaitan dengan persoalan status tanah yang kembali mencuat.

“Soalnya sebelum ada undangan dari desa, kami dikasih surat pernyataan oleh pihak desa yang harus ditandatangani. Katanya surat itu dari pihak Pak Wianto Leiman,” ungkap ahli waris Kombor.

Diantara isi pernyataan tersebut, agar mereka mengakui telah menjual tanah kepada perwakilan dari Wianto Leiman.

Padahal, papar dia, jual beli tersebut sudah dibatalkan pada 13 Mei 2016 yang diketahui oleh aparatur desa saat itu dan pihak pembeli.

“Tapi kenapa sekarang dipermasalahkan lagi? Kan sudah selesai, jual belinya sudah dibatalkan, enggak ada kaitan lagi dengan kami,” ucapnya.

Tanah milik Kombor tersebut seluas 17.840 M2. Dari seluas itu, sekitar 7.000 M2 sempat dijual ke Apun Saripudin senilai Rp80 jutaan dengan pembayaran secara mencicil. Sedangkan yang 10.840 M2 sudah dibeli oleh Harun al Rasyid, suami Nuryanti.

Namun belakangan, pada 13 Mei 2016, transaksi jual beli tersebut dibatalkan dan para ahli waris sudah mengembalikan uang kepada Apun menjadi senilai Rp130 juta.

“Sekarang seluruh tanah Pak Kombor seluas 17.840 M2 sudah sama Bu Nuryanti,” tegasnya.

Karena itu, dengan adanya undangan dari pihak desa dan surat pernyataan yang harus ditandatangani para ahli waris Kombor terkait persoalan tanah tersebut, pihaknya mengaku heran juga ketakutan. Bahkan menganggap kades sudah membuat resah dan hendak menjerumuskan mereka selaku warganya.

“Kenapa sekarang tiba-tiba muncul lagi persoalan ini dan melibatkan kami, jual belinya kan sudah dibatalkan dan kami sudah kembalikan uangnya. Pak kades jangan bikin resah kami. Kami warga bapak. Kami enggak mau dijerumuskan,” pintanya.

Soal Tanah Kombor, Kades Padaasih: Saya Cuma Mediasi dan Netral, Tak Memihak Siapapun

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa (Kades) Padaasih Kecamatan Cibogo, Nana Suryana, membenarkan pihaknya telah mengundang para ahli waris Kombor serta beberapa pihak terkait lainnya, diantaranya mantan Kades Padaasih, Sarnita, agar hadir ke kantor desa, Senin (4/11/2019).

“Tapi para ahli waris tak satupun hadir. Yang datang cuma Pak Sarnita, mantan kades,” ujar Nana, usai kegiatan Guar Bumi (Turun Nyambut) Menyambut Musim Tanam di Kampung Segrang, Senin (4/11/2019).

Dia juga mengundang salah satu pihak yang bersengketa soal tanah Kombor, yakni Wianto Leiman.

“Tapi Pak Wianto enggak datang,” katanya.

Namun, dia mengaku tidak mengundang pihak bersengketa lainnya, yakni Nuryanti. Pihaknya beralasan, karena sebelumnya sudah mengundang yang bersangkutan untuk memfasilitasi pertemuan bersama para ahli waris.

“Tapi saat itu mereka juga enggak hadir, dan waktu itu saya enggak mengundang Pak Wianto. Jadi tadi giliran Pak Wianto yang diundang, Bu Nuryanti yang enggak (diundang). Dan pertemuan tadi memang diajukan sama pihak Pak Wianto,” tuturnya.

Soal adanya pernyataan pembatalan jual beli tanah Kombor, dirinya mengaku tidak mengetahui. Karena persoalan tanah ini sudah lama terjadi sejak periode kades sebelumnya.

“Saya belum lama menjabat,” imbuhnya.

Terkait tudingan dirinya memihak salah satu kubu yang bersengketa, Kades Nana menegaskan jika dirinya hanya berupaya memediasi kedua belah pihak, yakni Nuryanti dan Wianto Leiman.

“Sebagai kades, saya cuma berupaya memediasi, saya netral, enggak memihak siapapun,” katanya.

Menanggapi keresahan warga selaku ahli waris dengan mencuatnya kembali persoalan tanah Kombor ini, Nana membantah telah meresahkan atau menakut-nakuti mereka.

“Mereka warga saya, enggak mungkin saya nakut-nakutin atau berniat menjerumuskan mereka,” jelasnya.

Selanjutnya, terkait adanya keluhan warga mengenai dipersulitnya pelayanan publik, Kades Nana juga menyangkal.

“Sebagai kades, saya harus melayani semua warga dan saya sudah berusaha maksimal melakukan pelayanan,” ucapnya.

Namun, sambung Nana, jika yang dimaksud dipersulit pelayanan ini terkait tidak ditandatanganinya berkas-berkas dokumen yang diajukan Nuryanti, dirinya mengaku memang tidak berani menandatangani. Sebab, obyek perkara dalam dokumen tersebut masih sengketa dan sedang ditangani pihak kepolisian.

“Saya enggak berani nandatangan, kan tanahnya masih sengketa dan sedang ditangani aparat hukum, bahkan sekarang yang nanganinya polda. Dan bukan cuma berkas Bu Nuryanti saja yang saya enggak berani nandatangan, kalaupun Pak Wianto Leiman mengajukan, saya pun pasti nolak, karena masih proses hukum. Saya sendiri sudah tiga kali diperiksa sebagai saksi, saya ingin persoalan ini cepet selesai dan tidak terus berlarut,” pungkasnya.

(Usep)

BERBAGI