Beranda Seni Budaya Adat Guar Bumi Sambut Musim Tanam, Kades Padaasih: Perlu Dipertahankan

Adat Guar Bumi Sambut Musim Tanam, Kades Padaasih: Perlu Dipertahankan

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Ratusan warga Kampung Segrang Desa Padaasih Kecamatan Cibogo menggelar Adat Guar Bumi (turun nyambut) untuk menyambut datangnya musim tanam padi, Senin (4/11/2019).

Kegiatan Guar Bumi yang dimeriahkan pagelaran Wayang Kulit Rama Budaya pimpinan Dalang Anom Suwarta dari Kecamatan Cipunagara ini, dihadiri Kades Padaasih Nana Suryana, perwakilan Koramil dan Polsek Cibogo, unsur muspika, aparatur desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat dan warga setempat.

Pantauan, di seputar lokasi yang dijadikan pusat kegiatan tampak dihias berbagai macam hasil bumi berupa sayur-sayuran dan buah-buahan. Ada juga nasi kuning tumpeng. Setiap warga juga membawa perbekalan nasi yang kemudian diletakkan di dalam lokasi kegiatan.

“Ini tradisi turun temurun sejak 1960-an lalu untuk menyambut musim tanam, istilahnya turun nyambut atau Guar Bumi,” ujar tokoh adat Kampung Segrang Desa Padaasih, Ameng, kepada Jabarpress.com, Senin (4/11/2019).

Menurutnya, Guar Bumi agak berbeda dengan Ruwat Bumi meski momennya sama, yakni untuk menyambut tibanya musim tanam padi. Guar Bumi ini sederhana, sedangkan Ruwat Bumi lebih kompleks, prosesi adat lebih lengkap dan biasanya digelar besar-besaran.

“Biaya Ruwat Bumi juga lebih besar,” katanya sambil terkekeh.

Selain adat Guar Bumi untuk menyambut musim tanam, di daerah ini juga terdapat tradisi menyambut musim panen, yakni Mapag Sri.

Menurut Ameng, hampir seluruh warga Segrang Desa Padaasih merupakan pendatang dari Indramayu atau memiliki leluhur berasal dari Indramayu. Sehingga bahasa percakapan yang digunakan bahasa Jawa. Sehingga tak heran jika kegiatan adat ini dimeriahkan pagelaran Wayang Kulit.

“Tapi kami juga pakai bahasa Sunda. Saya sendiri tinggal disini sejak 1949 dan sekitar tahun 1960-an mulai ada kegiatan Guar Bumi,” paparnya.

Kepala Desa (Kades) Padaasih Kecamatan Cibogo, Nana Suryana, adat Guar Bumi rutin dilaksanakan ketika hendak memulai masa tanam dan telah menjadi kearifan lokal bagi warganya.

“Ini sekaligus wujud tasyakur warga kami atas karunia Alloh SWT atas limpahan hasil bumi serta menandai dimulainya musim tanam,” ungkap Nana.

Pihaknya optimis, jika gelaran tradisi Guar Bumi dikemas secara unik, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi publik, bahkan berpeluang menjadi destinasi wisata budaya yang harus dilestarikan.

“Semoga kedepan Guar Bumi jadi potensi wisata budaya, sehingga bisa berkontribusi. Karena itu, tradisi ini perlu kita pertahankan,” tegasnya.

(Usep / M Sunardi)

BERBAGI