Beranda Daerah Kasus Dugaan Politik Uang Caleg PDIP, Bawaslu Panggil 3 Saksi

Kasus Dugaan Politik Uang Caleg PDIP, Bawaslu Panggil 3 Saksi

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Kasus dugaan praktik money politik (politik uang) Caleg PDIP Najib Jordi (NJ) yang dilaporkan kepada Bawaslu Subang oleh warga Kecamatan Cikaum, Ahmad Sulaeman, terus bergulir.

Kali ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Subang berencana memanggil 3 orang saksi untuk diminta klarifikasi dan keterangannya seputar kasus dugaan politik uang Caleg PDIP, NJ, tersebut.

“Hari ini, Rabu (24/4/2019) sekitar pukul 11.00 WIB Bawaslu akan mengundang 3 orang saksi untuk memberikan keterangan dalam klarifikasi dugaan pelanggaran money politik. Tiga saksi yang diundang masing-masing RW Taryana, Nono dan Yayah,” ungkap Komisioner Bawaslu Subang Divisi Hukum, Informasi dan Data, Cucu Kodir Jaelani, saat dikontak Jabarpress.com, Rabu (24/4/2019).

Selanjutnya, kata Cucu, setelah selesai semua diklarifikasi, mulai dari pelapor, saksi-saksi dan terlapor, maka hasilnya akan dibahas di pembahasan kedua bersama Sentra Gakkumdu.

Pembahasan di Sentra Gakkumdu ini, sambung dia, untuk menentukan unsur-unsur dugaan pelanggarannya terpenuhi atau tidak. Jika terpenuhi, maka penanganan kasus akan dilimpahkan kepada penyidik kepolisian untuk proses hukum selanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, gara-gara tim sukses (timses) tepergok bagi-bagi uang kepada warga (pemilih) di wilayah Desa Gandasari Kecamatan Cikaum, seorang Caleg PDIP Dapil VII (Cikaum, Binong, Purwadadi, Tambakdahan), Najib Jordi (NJ), dilaporkan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

NJ dilaporkan oleh Ahmad Sulaeman kepada Bawaslu atas tuduhan dugaan politik uang (money politik) sebagaimana diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2017, Peraturan Badan Pengawas Pemilu Nomor 7 Tahun 2018 Tentang Penanganan Temuan dan Laporan Pelanggaran Pemilu serta Peraturan Bawaslu Nomor 31 Tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu).

Saat dikonfirmasi, pelapor, Ahmad Sulaeman, menuturkan kronologis peristiwa temuan dugaan politik uang tersebut. Dia mengaku, melihat dengan jelas seorang timses Caleg PDIP NJ, Dedi alias Ojos, secara terbuka membagi-bagikan uang kepada warga Desa Gandasari Kecamatan Cikaum.

“Saya menangkap basah Dedi alias Ojos sedang membagi-bagi duit terhadap masyarakat di Desa Gandasari,” papar pria yang karib disapa Mang Eem ini, Minggu (21/4/2019).

Sebelum meng-OTT pelaku, dia mengaku sebelumnya sudah mendengar informasi bahwa di Desa Gandasari akan ada pembagian uang untuk pemenangan salah satu calon, yang sudah melibatkan Kepala Desa sebagai Koordes dan aparatur desanya, bahkan beberapa RW sudah mengadakan pertemuan dan mengarahkan kepada Caleg tersebut.

“Makanya saya secara pribadi meningkatkan pendengaran kabar berita dari seluruh relawan dan simpatisan di Desa Gandasari. Bahkan pernah saya sampaikan ke Panwascam bahwa Desa Gandasari termasuk daerah rawan, terbukti dengan adanya pelaporan poto dan bukti rekaman pembagian uang di desa, namun dinyatakan tidak memenuhi syarat pidana pemilu oleh Panwascam,” paparnya.

Selanjutnya, pada tanggal 16 April 2019, sore hari sekira jam 17.00 WIb, dirinya mendengar kabar bahwa ada mobil serupa milik Kepala Desa Gandasari terparkir di Dusun Galumpit, dan dicurigai milik Kepala Desa Gandasari.

Diperkirakan, mobil itu mendatangi seorang warga, Nono, di sekitar wilayah dekat TPS Dusun Galumpit, makanya pihaknya meningkatkan kewaspadaan.

“Namun, malam harinya tim tidak ada yang berhasil menangkap satupun, padahal rumor beredar ada pembagian uang untuk paket Caleg DPR RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten yang melibatkan beberapa oknum RT dan RW di Desa Gandasari. Tapi pada malam itu tidak ada satupun saya mendapatkan barang bukti dan tak ada yang memberikan kabar berita secara langsung, mungkin mental ketakutan masyarakat atau tenggangrasa atas himpitan ekonomi yang tidak pada tempatnya,” ucapnya.

Kemudian pada tanggal 17 April 2019 pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, dirinya mendengar kabar bahwa ada pembagian uang di daerah Dusun Galumpit. Karena itu, dirinya langsung mendatangi lokasi tersebut sendirian, dengan maksud mengecek dan memberikan info kepada relawan maupun simpatisan di dusun tersebut.

Pada saat itulah, dirinya memergoki Ojos alias Dedi, yang merupakan timses Caleg PDIP, NJ, tengah membagi-bagikan uang kepada warga sambil mensosialisasikan kartu suara berisi caleg terkait.

“Dengan memasuki gang kecil sendirian, saya melihat kerumunan yang ada Ojos (Dedi) yang sedang mensosialisasikan kartu suara dengan menggenggam dan memberikan uang kepada kumpulan itu yang terlihat pecahan 20 ribu, 10 ribu dan 5 ribuan dan menjelaskan tatacara pencoblosan. Namun, ketika saya dekati, langsung kerumunan bubar dan Ojos buru-buru menghindar secara tergesa-gesa seperti ketakutan dan memasukan kertas suara dan sejumlah uang ke kantong belakang celana jeansnya dan menghindar ke arah rumah Pak Nono dan Ibu Yayah. Pada saat bersamaan Ibu Yayah dan Pak Nono juga sepertinya sedang sosialisasi pencoblosan ke keluarga dekatnya juga,” beber Ahmad.

Dia mengaku meminta mereka agar bicara baik-baik terus terang terkait pembagian uang itu. Namun mereka tidak mengakui. Diapun terus berusaha dengan memaksa ke arah tembok sampai terduduk di bangku kayu, untuk memperoleh bukti dan uang yang dibagikan oleh Dedi (Ojos) dengan merogoh saku belakangnya di hadapan Pak Nono dan Ibu Yayah.

“Saya akhirnya berhasil mengambil uang pecahan 20 rebu pakai tangan kiri saya dan contoh kartu suara yang sebelumnya dibawa Ojos,” katanya.

Redaksi

BERBAGI