Beranda Daerah Miris! Banyak Petani Nanas di Subang Tak Tersentuh Perhatian Pemkab dan Tergusur...

Miris! Banyak Petani Nanas di Subang Tak Tersentuh Perhatian Pemkab dan Tergusur Perkebunan Sawit

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Petani nanas di Subang Selatan masih mengeluhkan usaha mereka yang menurutnya masih belum bisa keluar dari kesulitan mereka. faktor keberadaan tengkulak menurut mereka menjadi penyebab usaha mereka tak kunjung hasil.

Keberadaan para tengkulak ini dengan seenaknya menentukan harga nanas dan pengembalian uang pinjaman yang tidak masuk akal. Seperti disampaikan seorang petani nanas, Afiyah, 43..

“Kita pinjam uang Rp 500 Ribu, padahal total nanas yang kita miliki bisa lebih kalau dijual Rp 750 Ribu untuk 2 Kuintal,” imbuhnya.

Jono, 42 petani nanas lainnya menjelaskan terkait peran para tengkulak dalam menentukan harga butir nanas bisa saja harga senilai Rp. 350 Rupiah per butir dinilai jadi Rp 275 Rupiah dengan alasan jasa pinjam uang.

“Tentu saja ini walau tidak tertulis tapi jadi komitmen, ini karena kita minjam uang ke mereka, jadi uangnya diambil dari harga nanas sebanyak itu,” ungkapnya kesal.

Peran Pemerintah Belum Dirasakan Para Petani Nanas, Lahan Kian Sempit Tergusur Sawit

Peran penyuluh pertanian dari instansi terkait juga masih sangat minim padahal ini sangat penting, menurutnya peran penyuluh untuk melindungi para petani dari kegagalan tanam, bila perlu mereka ikut dalam menentukan pupuk yang terjangkau bagi para petani, menurut mereka peran pemerintah belum dirasakan.

“Mereka tidak datang memberikan penyuluhan langsung ke warga, seharusnya mereka turun langsung memantau pertanian bahkan seharusnya mereka menginventarisir permasalahan petani secara umum, apalagi nanas ini menjadi ikon penting kabupaten Subang,” ungkapnya lagi.

Peran penyuluhan dan perlindungan untuk para petani nanas juga perlu dikuatkan dengan adanya koperasi pedagang dan petani nanas, pasalnya hal ini untuk menutup peluang para tengkulak yang merugikan para petani selama ini.

“Rentenir atau tengkulak Lebih jahat dari yang jahat, itulah para tengkulak terhadap para petani, menurut saya yang awam hanya pemerintah melalui pemberdayaan koperasi membantu para petani terlepas dari itu semua,” tegasnya.

Ironinya, lahan perkebunan nanas semakin menyusut setelah meluasnya perkebunan sawit di kabupaten Subang, terutama di selatan Subang, selain itu kini industrialisasi juga masuk ke Subang yang merupakan zona pariwisata.

Gembar-gembor pemkab Subang memasyarakatkan koperasi di kabupaten Subang belum dirasakan di sektor usaha potensial seperti kepada para petani nanas padahal menurut pengamat pertanian Dadang, “Nanas Subang merupakan buah yang menjadi idola dan kini mulai tergeser oleh nanas Lampung dan Jawa Timur, maka jika tidak sungguh-sungguh dan tidak didukung intansi terkait bisa saja malah tergeser, maka sertifikasi buah nanas dan pemberdayaan petaninya harus menjadi pemikiran masyarakat dan pemerintah kabupaten Subang,” ungkapnya.

Dadang juga menambahkan peran koperasi menjadi penting untuk pemasaran nanas dan perlindungan petani dari jeratan tengkulak.

“Harus diberantas para tengkulak ini karena mempengaruhi produktivitas petani dari aspek keekonomian mereka, menanam itu kan perlu pupuk, menggarapnya juga mereka memerlukan tenaga, belum modal awalnya, dan ini hancur ketika mereka hanya mendapat puluhan ribu saja karena sudah meminjam uang kepada para tengkulak jauh sebelum masa panen,” imbuhnya.

Walaupun demikian nawaitu para petani untuk tidak bertransaksi dengan tengkulak juga penting dan seharusnya mencari cara lain untuk tidak terjerembab pada kesulitan karena tengkulak.

Redaksi

BERBAGI