Beranda Ekonomi Proyek Tiang Pancang Patimban Didemo Ratusan Emak-Emak, Protes Uang Kompensasi Cuma Janji...

Proyek Tiang Pancang Patimban Didemo Ratusan Emak-Emak, Protes Uang Kompensasi Cuma Janji Belaka

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Ratusan warga Desa Gempol Kecamatan Pusakanagara yang didominasi kaum perempuan menggeruduk lokasi proyek pemasangan tiang pancang (pemancangan) akses road (jalan) Pelabuhan Patimban di wilayah desa tersebut, Selasa (29/1/2019).

Aksi warga yang berasal dari RT 11, 12, 13 dan 14 Desa Gempol itu, mendapat pengawalan aparat Polsek Pusakanagara yang dipimpin langsung oleh Kapolsek, Kompol Undang Sudrajat. Turut hadir mengamankan jalannya aksi warga tersebut Babinsa TNI AD Koptu Asep.

Pantauan Jabarpress.com, aksi ratusan warga yang mayoritas dari kalangan emak-emak itu, untuk memprotes dampak proyek pemasangan tiang pancang, berupa kebisingan dan getaran yang dirasakan mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Sementara uang kompensasi dampak yang dijanjikan oleh pelaksana proyek (perusahaan) hingga kini belum juga direalisasikan kepada warga.

“Pihak proyek jangan cuma bisa berjanji dan berjanji (akan berikan kompensasi), sementara pekerjaan terus saja berlangsung dan dampaknya sangat mengganggu kami, kebisingan dan getarannya bikin kami enggak nyaman,” celetuk seorang ibu-ibu.

Warga lainnya, Herman, mengaku, sudah beberapa kali meminta kepada pelaksana proyek untuk segera merealisasikan uang kompensasi bagi warga terdampak. Namun hasilnya nihil.

“Sampai kami demo sekarang ini, kompensasi belum juga ada, khususnya warga terdampak di RT 11, 12 dan 13 Desa Gempol,” ucapnya.

Dia bersama ratusan warga lainnya pun meminta ketegasan dari pelaksana proyek soal kepastian pemberian kompensasi.

“Kami minta ketegasan, kejelasan dan kepastian pihak proyek soal kompensasi ini, jangan cuma bisa janji belaka, karena proyek terus berjalan dan dampaknya kami rasakan sangat mengganggu,” tegasnya.

Warga lainnya, Wasta, bahkan meminta pihak pelaksana agar menghentikan sementara pekerjaan tiang pancang sebelum uang kompensasi yang dijanjikan perusahaan terealisasi.

“Apabila kompensasi belum terealisasi, kami minta proyek agar dihentikan atau dipindahkan ke lokasi lain yang jauh dari pemukiman, karena tiap hari telinga kami bising dan terganggu,” keluhnya.

Selanjutnya, ratusan warga didampingi aparat desa setempat melakukan pertemuan dengan pihak pelaksana proyek yang diwakili oleh Pantja dari PT Shimitzu dan konsultan proyek, Ida, bertempat di Mushola Al-Falah Desa Gempol.

Dalam penjelasannya kepada warga, perwakilan pelaksana proyek tiang pancang dari PT Shimitzu, Pantja, mengaku, sudah memberikan uang kompensasi kepada sebagian warga terdampak, khususnya sebagian warga RT 14, dengan besaran kompensasi antara Rp300.000-500.000 per rumah.

“Tapi memang masih banyak yang belum diberi kompensasi terutama warga RT 11, 12 dan 13,” katanya.

Pihaknya menegaskan, warga terdampak lainnya juga bakal mendapatkan kompensasi. Namun dirinya tidak bisa memastikan kapan pemberian kompensasi dilakukan.

“Kami akan terlebih dulu mengukur jarak rumah warga dengan lokasi tiang pancang untuk pastikan tingkat kebisingan dan getarannya. Kami juga tidak bisa menjanjikan kapan kompensasi akan diberikan, karena kami hanya pelaksana di lapangan dan kebijakan ada di pimpinan. Kami mohon warga bersabar, aspirasi ini akan kami sampaikan ke pimpinan di Jakarta,” pungkasnya.

Asep H Ocay

BERBAGI