Beranda Daerah Jelang 2019, Ketua Dewan Syuro FPI Subang Imbau Masyarakat Jaga Kondusifitas

Jelang 2019, Ketua Dewan Syuro FPI Subang Imbau Masyarakat Jaga Kondusifitas

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Pasca insiden pembakaran bendera disebut bendera Tauhid di Kabupaten Garut beberapa waktu lalu, muncul sikap pro dan kontra di berbagai daerah. Namun kini mereda setelah berbagai upaya klarifikasi muncul di banyak media massa.

Keinginan terciptanya kondusifitas dan upaya menghindarkan hoaks yang bisa memprovokasi warga, terus bergelombang dari banyak tokoh agama di Indonesia.

Salah satunya dari Ketua Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Subang, KH Idris Said Muaffiq.

Pimpinan Pondok Pesantren Sadatul Daroen Kampung Cikondang Desa Mekarwangi Kecamatan Pagaden Barat ini, mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam agar tidak salah paham dalam menyikapi kasus di Garut tersebut.

“Alhamdulillah dengan inayah dari Allah SWT, pada kesempatan ini saya bisa menceritakan dakwatul Islam di kampung sendiri dan di tempat lainnya. Dalam tema yang saya sampaikan walaupun sekarang dalam bulan maulid tapi sejarah maulid nabi melihat kitab taurat, injil, zabur apalagi Alquran, berbicara tentang tauhid. Menyangkut kejadian di Garut, memang bendera kita, lambang Islam yang berisi kalimat tauhid yang harus kita pegang, karena kita umat Islam yang harus didahulukan adalah akidah. Munculnya kejadian di Garut itu, kita umat Islam jangan salah paham. Para ulama masih memiliki banyak kekurangan dan kesalahan apalagi kelupaan. Ini yang harus kita pahami sesuai dengan firman Allah,” paparnya.

Menurut dia, membicarakan tentang akidah Islam seperti kejadian pembakaran lambang Islam, yang dibakar oleh orang Islam dan yang menyalahkan juga orang Islam, maka otomatis yang harus menangani permasalahan itu adalah orang Islam.

Dia menegaskan, kejadian di Garut itu harus dimaafkan, karena sikap memaafkan ini bagian dari manifestasi ajaran tauhid.

“Mana yang tidak ada solusi, mana yang tidak ada jalan untuk menyelesaikan permasalahan, apalagi menyangkut hukum dari Allah. Kesalahan itu harus kita maafkan, karena memaafkan kesalahan sama dengan kita menegakkan tauhid,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan agar umat Islam tidak selalu menyalahkan kesalahan orang. Karena orang yang kurang tauhidnya dan selalu disalahkan dan tidak dimaafkan akan semakin hancur tauhidnya. Sedangkan dalam Islam memang lebih luas untuk memaafkan kesalahan.

“Bukan membela kesalahannya, karena yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar. Namun kita berupaya untuk menegakkan hukum dan kebenaran. Soal siapa yang membakar (bendera itu), saya tidak tahu. Namun membicarakan terkait pembakaran yang dikaitkan dengan akidah, lebih baik diselesaikan bersama-sama, sehingga tidak timbul adu domba dan permusuhan antar sesama umat Islam. Karena yang dipermasalahkan adalah kalimat tauhid, maka hanya bisa diselesaikan oleh sesama umat Islam,” papar Idris.

Seperti diketahui, permasalahan pembakaran bendera beberapa waktu lalu memang bukan hanya ramai di Garut namun juga menimbulkan polemik dan memicu aksi unjuk rasa pro dan kontra di daerah-daerah lainnya.

Saat ditanya soal pemilihan umum tahun 2019 yang sudah di hadapan mata, Kyai Idris mengatakan, jika ajang kontestasi dan hajat nasional rakyat Indonesia harus didorong dan disukseskan oleh kaum muslimin Indonesia.

Dia menyebut, upaya menjaga kebersamaan dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi kewajiban bersama warga Indonesia terutama dalam rangka mendorong sukses pemilu 2019.

“Pokoknya harus diselesaikan dengan meningkatkan keimanan dan akidah kita sehingga tidak menimbulkan kelemahan dalam akidah. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menegakkan Islam dan menyelesaikan permasalahan, dikarenakan di Indonesia akan diselenggarakan pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali,” tutur Kyai Idris.

Selanjutnya, pihaknya berharap seluruh elemen masyarakat tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

“Mudah-mudahan dapat menjadikan bahan untuk menenangkan masyarakat Indonesia yang mempunyai pilihan masing-masing, namun jangan dijadikan untuk meragukan keimanan. Kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta hablum minannas dan hablum minallah,” pungkasnya.

Adv I Indowarta

BERBAGI