Beranda Hukum Soal Proyek Jalan Rp28 Miliar, Pelaksana Ngaku Pekerjaan Hotmik Perintah Dinas PUPR

Soal Proyek Jalan Rp28 Miliar, Pelaksana Ngaku Pekerjaan Hotmik Perintah Dinas PUPR

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-PT Sumber Mitra Jaya selaku pelaksana (pemborong) proyek peningkatan struktur jalan Tanjung-Sumurbarang senilai Rp28,4 miliar, angkat bicara menanggapi ‘oplosan’ pekerjaan beton (rijit) dengan hotmik yang menjadi polemik di kalangan masyarakat.

Perwakilan pelaksana proyek dari PT Sumber Mitra Jaya, Fajar Abu Bakar, mengungkapkan, proyek jalan yang dikerjakannya dari mulai Sumurbarang Kecamatan Cibogo hingga Tanjung Kecamatan Cipunagara sepanjang 13 kilometer, terdiri dari pekerjaan beton (rijit) 11 kilometer dan pekerjaan hotmik (pengaspalan) 2 kilometer.

“Untuk pekerjaan beton, tebal lantai kerja 5 cm dengan kualitas K125 dan ketebalan rijitnya 20 cm dengan kualitas K350. Sedangkan (ketebalan) hotmik 5 cm,” ungkap Fajar kepada Jabarpress.com, di lokasi proyek kawasan Sumurbarang, Selasa (13/11/2018).

Dia menyebut, pekerjaan hotmik yang belakangan ini menjadi polemik di kalangan masyarakat, merupakan perintah dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Subang dan tercantum dalam RAB serta gambar proyek.

“Kata orang PUPR ‘kamu kerjakan saja proyek ini 11 kilometer beton, 2 kilometer hotmik’. Jadi kami hanya melaksanakan pekerjaan saja, lagipula hotmik itu ada di gambar dan RAB-nya,” tuturnya.

Pihaknya juga menyangkal ada intervensi perusahaan agro (ayam) dalam pekerjaan hotmik di dua lokasi proyek jalan tersebut.

“Enggak ada. Tapi kalau dibelakang itu atau dulu perencanaannya seperti apa, saya enggak tahu,” ucapnya.

Fajar juga mengakui jika hasil pekerjaan hotmik sudah mengalami kerusakan di beberapa titik. Namun pihaknya membantah jika kerusakan itu berkaitan dengan kualitas atau kelayakan pekerjaan.

“Tadi saya sudah cek ke lapangan, memang ada beberapa titik yang rusak. Mungkin (kerusakan) itu karena kondisi hujan ya, tapi akan kami perbaiki secepatnya,” katanya.

Pihaknyapun membenarkan jika manajemen perusahaan sempat dipanggil oleh Dinas PUPR terkait permasalahan proyek yang ramai di masyarakat, khususnya polemik penggunaan hotmik serta kualitas hasil pekerjaan.

“Sempat dipanggil tadi sama pihak Dinas PUPR, yang kesana (datang ke dinas) Pak Ramlan selaku SM (Site Manager), atasan saya, kayaknya membahas persoalan yang muncul di masyarakat,” papar Fajar.

Wasdal PUPR: Kalau Kerusakan Tak Diperbaiki, Pekerjaan Tak Kami Terima

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Wasdal PUPR) Subang, Dede Juhana, mengaku sudah memanggil pihak kontraktor PT Sumber Mitra Jaya untuk membahas persoalan yang muncul di masyarakat, terutama mengenai kualitas pekerjaan hotmik yang sudah mengalami kerusakan di beberapa titik.

“Kontraktor yang melaksanakan hotmik sudah kami panggil, kami tegur, karena memang ada kekurangan,” terangnya.

Saat itu pihaknya juga meminta kontraktor agar segera memerbaiki pekerjaannya.

“Kami minta kerusakan diperbaiki, pekerjaannya diperbaiki. Kalau tidak diperbaiki, pekerjaan tidak akan kami terima, daripada nantinya kami dimarahi oleh rakyat,” tegas Dede.

Warga Cipunagara Ancam Demo Dinas PUPR

Sementara itu, sejumlah perwakilan tokoh masyarakat dari tiga desa di Kecamatan Cipunagara yang wilayahnya dilintasi proyek jalan Rp28,4 miliar, yakni Desa Sidamulya, Sidajaya dan Tanjung, sempat menggelar pertemuan untuk menyikapi kualitas proyek dan polemik pekerjaan hotmik dalam proyek tersebut.

Hadir dalam pertemuan tersebut Sekdes Desa Sidamulya Tahrudi, pengurus LSM Jarang Tarjuki, Sekretaris PAC PROJO Cipunagara Tedi Kuswanto, Ketua PAC PROJO Cipunagara Ace Nugraha, tokoh warga Hj Rima Melati, tokoh pemuda Wahyudin, tokoh masyarakat Sakim, tokoh pemuda Tjetje, serta aktivis perempuan Devi Alamsari.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan para tokoh masyarakat meminta Pemkab Subang terutama Dinas PUPR serta pihak kontraktor, agar transparan dan memberikan bukti-bukti legalitas penggunaan pekerjaan hotmik pada proyek itu serta menjelaskan kualitas pekerjaan yang kondisinya cepat rusak.

“Kami selaku warga ingin mempertanyakan, ingin kejelasan mengenai landasan hukum pekerjaan hotmik di proyek beton jalan ini. Kenapa tidak semuanya pakai beton? Kenapa mesti pakai hotmik di dua lokasi yang kebetulan melintasi perusahaan agro? Ada berita acaranya tidak? Apa sudah melalui kajian konsultan? Lalu bagaimana kualitas hotmiknya yang cepet rusak itu, apa karena kualitas pekerjaan atau kelabilan tanah? Kalau kualitas pekerjaan ya cepet perbaiki, tapi kalau tanahnya labil, kenapa enggak pakai beton saja,” imbuh Tedi Kuswanto, tokoh masyarakat yang juga Sekretaris PAC PROJO Cipunagara.

“Kalau kami tetap inginnya hotmik itu diganti beton saja, dan saya kira masyarakat sini kebanyakan inginnya juga dibeton semua,” timpal Sakim dan Devi.

Pengurus LSM Jarang, yang juga tokoh pemuda setempat, Tarjuki, bahkan mengaku siap mengerahkan masyarakat untuk berunjukrasa ke Kantor Dinas PUPR.

“Kalau perlu kita siap demo ke pemkab, ke PUPR agar aspirasi warga cepet direspon dan pekerjaan diperbaiki,” pungkasnya.

BERBAGI