Beranda Hukum Proyek Jalan Beton Rp28 Miliar ‘Dioplos’ Hotmik Diprotes, Warga: Masa Baru Tiga...

Proyek Jalan Beton Rp28 Miliar ‘Dioplos’ Hotmik Diprotes, Warga: Masa Baru Tiga Hari Selesai Hotmik Rusak Lagi

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Proyek peningkatan struktur jalan yang menghubungkan Desa Tanjung Kecamatan Cipunagara dengan Desa Sumurbarang Kecamatan Cibogo, diprotes warga.

Pasalnya, proyek peningkatan jalan berupa betonisasi (rijit) ini, kenyataannya tidak seluruhnya menggunakan beton (rijit), melainkan beberapa bagiannya ‘dioplos’ berupa hotmik (pengaspalan), dimana saat ini kondisinya rusak di sejumlah titik.

Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun, proyek jalan sepanjang sekitar 30-an kilometer yang melewati sejumlah desa yakni Tanjung, Sidajaya, Sidamulya Kecamatan Cipunagara dan Desa Sumurbarang Kecamatan Cibogo ini, menelan biaya Rp28,4 miliar bersumber dari APBD Pemkab Subang Tahun 2018.

Mengacu pada papan informasi yang ditemukan di lokasi yang kondisinya sudah tidak terpancang di tanah, proyek jalan ini dilaksanakan sejak 29 Juni 2018 oleh PT Sumber Mitra Jaya dengan konsultan CV Maya Persada.

Sejumlah warga dan tokoh masyarakat sempat memprotes proyek jalan tersebut, karena tidak seluruhnya menggunakan beton (rijit).

“Proyek ini kan harusnya semua pakai beton, kenapa malah sebagian pakai hotmik? Jadinya cepet rusak, apalagi dilindas oleh truk pengangkut pakan ayam. Terus memangnya boleh kalau dalam satu paket pekerjaan berupa beton, lalu dicampur sebagian dengan hotmik?,” keluh Yaman, tokoh masyarakat Desa Tanjung, kepada Jabarpress.com, Selasa (12/11/2018).

Dia mengaku, sempat menanyakan langsung ihwal dicampurnya beton dengan hotmik ini kepada pelaksana proyek. Saat itu, pihak pelaksana menyampaikan jika di SP dan RAB proyek, pekerjaan ini seluruhnya berupa betonisasi (rijit).

“Tapi ketika kami tanya kenapa sebagian pakai hotmik, dia (pelaksana) bilang ‘diperintah agar pakai hotmik juga’. Cuma kami enggak tahu itu perintah dari siapa,” ucapnya.

Yaman mengungkapkan, dia bersama warga lainnya sempat mendengar kabar jika pihak perusahaan agro (ayam) menginginkan agar proyek jalan yang melintasi perusahaan itu, dihotmik.

“Informasinya pihak agro inginnya dihotmik, mungkin agar cepet selesai dan bisa digunakan supaya enggak ganggu kegiatan (bisnis) mereka. Tapi kan warga inginnya semua dibeton, supaya awet, enggak cepet rusak kayak sekarang,” tegasnya.

Warga lainnya, Warno, mengatakan, proyek betonisasi jalan yang sebagiannya menggunakan hotmik ini, terdapat di dua lokasi yang totalnya sepanjang sekitar 2 kilometeran. Kebetulan, kata dia, kedua lokasi tersebut tepat melintasi kawasan perusahaan agro (ayam).

“Ada dua lokasi yang pakai hotmik, yang satu lokasi berada di wilayah Kampung Sarimukti sekitar 1 kilometeran, dan satu lagi di Kampung Tanjungjaya sekitar 1 kilometeran juga. Kebetulan lokasinya melintasi perusahaan agro PT Leong dan PT Japfa. Kami juga denger kalau hotmik itu keinginan perusahaan,” paparnya.

Pihaknya juga menyesalkan proyek tersebut sebagian menggunakan hotmik. Sebab, warga menginginkan seluruhnya pakai beton.

“Kalau pakai hotmik cepet rusak. Buktinya sekarang, baru selesai tiga hari sudah rusak lagi di beberapa titik. Terus kan ketebalannya (hotmik) kurang, terlihat tipis. Beda dengan beton yang ukurannya tebal,” katanya.

Tokoh warga lainnya, Karsom, penduduk Kampung Tanjungjaya, juga menyesalkan proyek betonisasi itu sebagian dicampur hotmik, karena saat ini keadaannya sudah rusak lagi

“Kalau dari sananya harus pakai beton, ya pakai beton, jangan campur hotmik. Jadinya cepet rusak, padahal baru tiga hari selesainya. Kan pakai beton enggak ganggu (perusahaan) agro. Sementara dibeton, perusahaan kan bisa pakai jalan lain, memutar, sampai betonnya kering. Apalagi kami selaku warga inginnya beton semua biar awet, kami sudah puluhan tahun nunggu jalan ini diperbaiki. Makanya kami ingin perbaikannya bagus, awet, enggak cepet rusak kayak hotmik, ini kan ukurannya tipis lagi,” imbuhnya.

Atas kondisi tersebut, dia bersama warga lainnya meminta instansi pemerintah dan pihak terkait turun ke lapangan menindaklanjuti keluhan mereka.

“Sebaiknya pemkab dan pihak-pihak terkait lihat langsung ke lokasi, dan respon keinginan warga supaya semuanya dibeton,” tegas Karsom.

PROJO: Kualitas Proyek Jalan Tak Sesuai Nawacita Presiden Jokowi

Sementara itu, proyek jalan Tanjung-Sumurbarang senilai Rp28,4 miliar ini juga dikritik oleh Ketua PAC PROJO Kecamatan Cipunagara, Ace Nugraha. Menurut Ace, kualitas pekerjaan proyek peningkatan jalan tersebut, jauh dari harapan Nawacita Presiden Jokowi, yang menginginkan proyek infrastruktur dikerjakan secara bagus, tepat sasaran, berkualitas.

“Kualitas proyek jalan ini kurang sesuai semangat Nawacita Pak Jokowi. Proyek infrastruktur harus dikerjakan optimal dan berkualitas, memenuhi harapan publik selaku penerima manfaat. Kalau baru tiga hari sudah rusak, itu problem. Apalagi kalau enggak sesuai spek atau ketentuan. Misalnya, kalau memang aturannya beton, ya beton semuanya. Karena itu, kita berharap instansi pemkab dan pihak berwenang segera memberikan atensi,” tutur Ace.

Dinas PUPR: Proyek Itu Sekaligus Beton dan Hotmik

Hingga kini belum ada tanggapan mendetail dari pihak-pihak terkait. Namun saat dikonfirmasi, Kabid Pengawasan dan Pengendalian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Wasdal PUPR) Subang, Dede Juhana, menyebut, jika proyek peningkatan jalan Tanjung-Sumurbarang memang direncanakan menggunakan beton (rijit) dan hotmik.

“Di RAB (rencana anggaran biaya)-nya memang bisa beton dan hotmik. Juga di perencanaannya pakai beton dan hotmik. Jadi itu enggak masalah. Pakai hotmik itu bukan karena (keinginan) perusahaan (agro), di perencanaannya memang begitu (beton dan hotmik),” pungkas Dede saat dikontak Jabarpress.com.

BERBAGI