Beranda Ekonomi Dibongkar Satpol PP, Begini Pengakuan ‘Mengejutkan’ Pedagang Pasar Pujasera

Dibongkar Satpol PP, Begini Pengakuan ‘Mengejutkan’ Pedagang Pasar Pujasera

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Aparat gabungan Satpol PP Kabupaten Subang, Polres dan TNI, menertibkan ratusan lapak pedagang kaki lima (PKL) di sekitar eks Bioskop Chandra dan kawasan Pasar Pujasera, Senin (21/8/2017).

Kepala Satpol PP Subang, Tatang Supriyatna, mengatakan, terdapat sekitar 100-200 pedagang yang akan ditertibkan dan selanjutnya direlokasi (dipindahkan) ke Pasar Rakyat di belakang Terminal Subang.

Para pedagang ini ditertibkan, karena lokasi lapaknya berdiri di atas bahu jalan dan trotoar, sehingga dianggap mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

“Saat ini, penertiban diprioritaskan bagi para pedagang basahan, seperti sayuran dan makanan, terutama yang lapaknya mengganggu bahu jalan serta trotoar,”ujar Tatang.

Dia menegaskan, penertiban akan terus dilanjutkan sampai seluruh pedagang berpindah menempati kompleks Pasar Rakyat, sesuai ketentuan Pemkab Subang.

“Pasca penertiban, areal eks Bioskop Chandra dan Pasar Pujasera ini tetap kami pantau, untuk antisipasi mereka kembali beroperasi (berdagang), atau mencegah munculnya pedagang baru berjualan di sekitar sini. Sebab, hasil pantauan kami, dari sekitar 100-200 pedagang yang ditertibkan, banyak pedagang barunya,”papar mantan Camat Subang, yang sudah 30 tahun mengabdi jadi PNS ini.

Diduga, Ini Penyebab Pedagang Sulit Ditertibkan

Sementara itu, berdasarkan hasil investigasi Jabarpress.com, sejumlah pedagang yang lapaknya ditertibkan, membuat pengakuan ‘mengejutkan’, yang menyebabkan mereka merasa keberatan untuk ditertibkan atau dipindahkan ke lokasi baru.

Seorang pedagang, RN, asal Garut, yang lapaknya tepat berada di depan Toko Kue, mengaku, sudah 13 tahun atau sejak 2004 silam berdagang.

Untuk bisa berdagang di lokasi tersebut, dirinya membayar uang sewa kepada H LL, sang pemilik Toko Kue.

“Saya bayar sewanya setiap bulan ke Pak H LL, yang punya toko kue ini, sebesar Rp500.000/bulan,”ungkapnya.

Menurutnya, ada dua pedagang yang berjualan di depan toko tersebut, yakni dirinya dan seorang pedagang bakso. Dirinya berharap, tidak ikut ditertibkan karena sudah membayar sewa lapak.

“Dia (pedagang bakso) juga sama membayar sewanya setiap bulan ke Pak H LL yang punya toko ini,”kata RN.

Pedagang lainnya, Car, warga Subang Kota, yang lapaknya berada di depan bangunan eks Bioskop Chandra, menuturkan, dirinya sudah berjualan selama 25 tahun.

Semula, dirinya tidak mengeluarkan uang sewa untuk lokasi lapak tempatnya berjualan. Lapak tersebut merupakan pemberian dari Moksen, warga India yang merupakan pemilik Bioskop Chandra saat itu.

“Saya diberi lapak oleh Moksen, orang India yang punya Bioskop Chandra ini, karena kebetulan suami saya karyawan bioskop. Jadi, dulu enggak bayar. Dikasih sama dunungan (majikan) si bapak (suami),”beber Car.

Namun belakangan, setelah bioskop diambil alih oleh pemkab, dirinya diharuskan membayar uang parkir sebesar Rp1,2 juta/bulan. Karena itu, dirinya cukup keberatan jika harus meninggalkan lokasi tempatnya berjualan selama ini, untuk pindah ke lokasi yang baru.

“Selama bioskop enggak pergi, saya enggak akan pergi dari sini,”ujarnya.

Selain karena alasan keterkaitan dengan pemilik bioskop dan pembayaran uang parkir, dirinya, juga mengaku bingung jika dipindahkan ke Pasar Rakyat, karena belum punya lapak.

“Saya minta tolong ke pemkab, kasih saya waktu untuk beres-beres dagangan. Kalau harus pindah sekarang, saya bingung, karena belum punya tempat (untuk berjualan lagi). Sementara saya harus tetap jualan, untuk biaya keluarga dan sekolah anak-anak,”pungkas Car, sambil terisak.

(Usep)

BERBAGI