Beranda Ekonomi Usai Dipupuk, Tanaman Padi Petani di Subang Membusuk, Lalu Mati

Usai Dipupuk, Tanaman Padi Petani di Subang Membusuk, Lalu Mati

BERBAGI

Jabarpress.com, Subang-Para petani dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Subang, mengeluh tanaman padi mereka mendadak rusak, memerah, kemudian membusuk dan mati, usai sebelumnya dilakukan pemupukan.

Informasi yang dihimpun, tanaman padi yang mengalami rusak ini, tersebar di sedikitnya empat kecamatan. Yakni, Pagaden Barat, Pagaden, Cipunagara, dan Binong.

“Enggak tahu kenapa, setelah dipupuk, padi mendadak ‘bareureum’ (memerah) daunnya, akarnya ‘ngeyepes’ (membusuk), terus mati. Kejadiannya beberapa hari setelah pakai pupuk NPK/Poska. Padahal sebelum dipupuk, tanaman padi saya bagus, hijau, enggak kenapa-kenapa,”keluh Casih, 55, petani Desa Padamulya, Kecamatan Cipunagara.

Pada saat pemupukan tersebut, dirinya menggunakan campuran pupuk urea dan NPK/Poska produksi Cikampek. Dia mengaku, memilih pupuk NPK itu, karena harganya lebih murah.

“Biasanya pakai NPK Gresik, cuma harganya mahal, sekitar Rp300.000/kwintal. Lagian, saat ini, NPK Gresik enggak ada di kios-kios. Yang ada cuma NPK Cikampek, harganya lebih kejangkau, Rp200.000-an/kwintal. Makanya, saya dan banyak petani disini pakainya (NPK Cikampek) itu,”bebernya.

Namun, selang semingguan usai dipupuk, tanaman padinya mendadak memerah di bagian daun, diiringi pembusukan akar, dan beberapa di antaranya mati.

Kalaupun ada sebagian tanaman yang hidup, kondisinya sulit berkembang atau sulit berbulir. Sehingga, menurunkan produktifitas hasil panen.

“Bahkan, karena banyak yang mati dan sulit tumbuh (berkembang), enggak sedikit petani yang tanam ulang, tanaman padi yang dulu kepaksa digilas lagi sama traktor, termasuk padi saya. Kami bener-bener rugi,”katanya.

Dia menyebut, kejadian ini dialami hampir semua petani di wilayah desanya.

“Kejadiannya (padi rusak dan mati), ada yang tiga atau empat hari setelah dipupuk. Tapi, rata-rata semingguan setelah dipupuk, padi tiba-tiba rusak. Ini dialami semua petani disini,”ungkapnya.

Petani lainnya, Ajud, 40, dan Asep Dayat, 45, mengaku, kejadian tanaman padi rusak pasca pemupukan, juga dialami mereka dan banyak petani lainnya di wilayah Pagaden dan Binong.

“Sebelumnya enggak ada masalah, padi baik-baik saja. Cuma begitu selesai dipupuk, jarak semingguan, padi tiba-tiba ‘ngeyepes’ (membusuk), daunnya merah-merah, terus beberapanya mati,”jelas keduanya.

Khawatir kerusakan padinya kian parah, dia lantas memilih menyimpan, dan tidak menggunakan lagi sisa pupuk yang dibelinya.

Bahkan, dia terpaksa menyimpan satu karung pupuk NPK, yang kondisinya masih utuh. Karena belum sempat digunakan.

“Saya dulu beli NPK Cikampek ini di kios pupuk depan desa, sekitar 2 kwintal. Baru digunakan sebagian. Sisanya masih satu karung utuh, kepaksa saya simpan, setelah lihat tanaman kayak gitu (rusak),”timpal Ajud.

Saat dikonfirmasi, Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Cipunagara, Rastim, membenarkan, banyak petani di wilayahnya mengalami kerugian, akibat tanaman padinya rusak.

Setelah dilakukan pengecekkan bersama petugas PPL, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan pihak terkait, disimpulkan, jika kerusakan tanaman tersebut, diakibatkan penyakit atau semacam virus yang ditularkan hama wereng.

Kemunculan virus ini, sebut dia, di antaranya, diakibatkan pola tanam padi yang diterapkan petani selama ini, kurang baik.

“Setelah kami lihat ke lapangan, kerusakan padi ini nampaknya disebabkan sejenis virus, yang disebarkan wereng. Karena pola tanam yang kurang baik. Jadi, itu bukan disebabkan oleh pemakaian pupuk,”terangnya.

Marketing Supervisor PT Pupuk Kujang Cikampek, Muhamad Toha, didampingi Staf AE Wilayah Subang, Yedi, membantah, jika kerusakan tanaman padi milik petani di sejumlah kecamatan tersebut, diakibatkan pemakaian pupuk NPK/Poska yang diproduksinya.

“Kami bisa pastikan, kerusakan itu bukan karena pupuk,”tegas Toha, saat meninjau lokasi tanaman padi yang rusak di Desa Padamulya, Kecamatan Cipunagara, Jumat (31/3/2017).

Dia menegaskan, kerusakan yang dialami tanaman padi ini, merupakan penyakit ‘kerdil rumpun, kering hampa’, yang disebabkan sejenis virus, yang berasal atau disebarkan oleh wereng.

“Lokasi sawah yang tanaman padinya terkena serangan virus ini, sebaiknya diistirahatkan dulu. Jangan ditanami dulu selama setahun, untuk memulihkan kondisi tanah,”paparnya.

Red

BERBAGI