Beranda Nasional In Memorian Ahmad Taufik (Ate), Jurnalis Pembela Kaum Tertindas dari UNISBA 

In Memorian Ahmad Taufik (Ate), Jurnalis Pembela Kaum Tertindas dari UNISBA 

BERBAGI

By. SACHRIAL
(Ketua Angkatan FH 1990, Ketua Divisi Mujahid Ikatan Alumni (IA) UNISBA, dan Pecinta Almamater UNISBA)

UNISBA, sebuah kampus nomor 1 di Taman Sari Kota Bandung. Menyimpan banyak kenangan kelas 1. Kenangan dan pergerakan di kampus UNISBA, pertama kali saya rasakan adalah saat demonstrasi menolak SDSB.

Saat itu, saya ikut bergabung menolak SDSB setelah saya memasang nomor undian dan kalah. Pemasangan undian semata hanya ingin tahu, seberapa besar parahnya sebuah harapan kemenangan uang, yang didapat dari modal alakadarnya.

KEKALAHAN atas undian pengoclokan itu, membuat saya sadar betapa berbahayanya judi. Saat itulah saya bertekad menjadi Pendemo ketimbang menjadi penjudi.

Demo pertama di kampus inilah, saya mulai banyak mendengar para senior yang konsen dalam pergerakan. Salah satunya adalah Bung Ahmad Taufik, dikenal dengan sapaan Bung Ate.

Lima tahun berikutnya, 1995, saya mendapat kabar jika senior Bung Ate pada bulan Maret itu, dijebloskan ke penjara. Karena, melakukan penerbitan gelap yang berisikan banyak perlawanan terhadap rezim Soeharto.

Ada rasa sedih karena senior ditangkap, dan ada rasa bangga panji UNISBA sebagai kampus perlawanan, mulai berkibar. Saya rasa, pihak kampus harus banyak berterima kasih pada kaum pergerakan kampus, yang secara tidak langsung menaikkan animo bermahasiswa di kampus ini.

Bung Ate, bagi saya adalah sosok yang sepanjang hidupnya adalah perlawanan. Karena berbeda angkatan dan generasi, saya lebih banyak mengenal Bung Ate melalui tulisan dan pikiran-pikirannya.

Perawakannya yang ‘Arab Saudi’, santun, dan kesederhanaannya mengalahkan kemewahan Jakarta. Sorot matanya menaklukkan silau gemerlap kekuasaaan, suaranya lantang menghadang radang penguasa. Bahkan, tulisannya adalah senjata shogun dan bak pedang Sayidina Ali Bin Abi Thalib.

Gejolak perlawanan dan pembelaannya, tertuang dalam kejurnalisan dan ke-advokat-annya. Pikirannya penuh dengan pembelaan pada kaum teraniaya, serta perlawanan terhadap rezim penindas.

Bagi Saya, Sachrial, Bung Ahmad Taufik adalah sang pengibar semangat perlawanan dan pembelaan dari Taman Sari 1 (UNISBA). Kecintaan Bung Ate terhadap kampus sangat kental.

Hal ini dibuktikan dengan banyak upaya untuk memerkenalkan kampus, sebagai pejuang kebebasan pers hingga tertangkapnya, dan melakukan perlawanan terhadap hegemoni Tomy Winata.

Selanjutnya, Bung Ate juga menggugat Ancol agar bisa dinikmati rakyat, melawan Menkop Syarif Hasan, serta mencalonkan Gubernur DKI dari jalur perseorangan.

Dia melontarkan banyak kritikan tajam kepada para pemodal media dan kawan-kawan jurnalis, dengan mengatakan, “Bila penghormatan terhadap hak masyarakat diabaikan, maka masyarakat tidak lagi menghormati hak jurnalis untuk memeroleh informasi. Kebebasan pers menjadi set back ke masa Orba, jika jurnalis dan media massa menyediakan diri menjadi ‘budak’ pemilik yang busuk, yang cuma memikirkan kepentingan bisnis dan politik. KPI pasif, dewan pers pasif”.

DAN paling sangat membanggakan adalah, saat Bung Ate mencalonkan dan lolos 6 besar sebagai calon komisioner KPK. Namun, kejujuran dan kesungguhan anti korupsi, ternyata tidak diberi ruang di Republik ini.

DALAM sebuah tulisannya, Bung Ate mengkritik tentang ‘Anti Korupsi Harga Mati’. Menurut beliau, “Anti Korupsi Sudah Mati?”, selorohnya. Bukan harga mati, tapi harga nego.

Dalam suara lantangnya, dalam sikap kerasnya, ada rasa humor yang tinggi. Tentunya ini adalah dedikasi yang diberikan atas kecintaan terhadap almamaternya.

Beliau tidak mengambil posisi di almamaternya, tapi malah mendorong adik-adiknya untuk menjadi tokoh. Sebut saja, Sahrin, Furqon dan Imam Rusydi, adalah bagian dari keikhlasan dirinya, untuk menjadikan kawan-kawannya sebagai Ketua IA (Ikatan Alumni) UNISBA. Bahkan, dia menjadi team formaturnya saat Sang Imam Rusydi menjadi Ketua IA.

Pertemuan terakhir saya dengan Bung Ate adalah saat reuni akbar FH UNISBA. Beliau dan rekannya Sey menjadi team untuk Undang Munggopal (Ketua IA sekarang).

Pertemuan di Patra Jasa malam 17 Januari 2017, merupakan kenangan nomor 1 bagi saya. Bung Taufik mengatakan, “Kita ingin FH UNISBA berkibar di kancah nasional, melalui gerakan politik; bukan melalui partai politik”.

Lalu saya disarankan untuk mendukung dan mensukseskannya. Karena Bung Taufik bagi saya adalah Rahbar, saya tegaskan, kemenangan ini harus aklamasi.

MALAM itu, saya melihat Bung Taufik mengalami kelelahan yang disembunyikan.

Alhamdulilah, reuni akbar berjalan sukses dan mengantarkan Kang Undang Munggopal sebagai Ketua IKA FH UNISBA.

Pesan dari Bung Taufik itu pun, terus teringat hingga raker, yang saat itu tidak dihadiri beliau karena sakit. Yang paling menyesal nomor 1 bagi saya, adalah saya tidak menjelaskan alasan kemunduran saya dari jabatan Sekretaris IKA FH UNISBA pada Bung Taufik.

Karena itu, izinkan dalam kenangan ini saya sampaikan, bahwa saya ingin meneruskan panji-panji yang telah dikibarkan Bung Taufik.

Bung Taufik diketahui mengidap penyakit kanker paru-paru, dan mengembuskan nafas terakhir pada Kamis, 23 Maret 2017.

Bung Taufik menyimpulkan hidup seperti Murtadha Muthahari: “Lahir, Sakit dan Mati”. Salam perlawanan Bung Ate…!

Rancaekek, 31 Maret 2017

BERBAGI