Beranda Daerah Cerita Pilu Keluarga Iyep, Korban Selamat Longsor Cibitung

Cerita Pilu Keluarga Iyep, Korban Selamat Longsor Cibitung

BERBAGI

Jabarpress.com, Bandung-Peristiwa longsor Cibitung di wilayah Desa Margamukti Kabupaten Bandung, masih meninggalkan kisah pilu bagi masyarakat, khususnya para korban.
Tak hanya menimbulkan kerugian harta benda, peristiwa tersebut, juga menyisakan trauma psikologis dan penderitaan fisik bagi sejumlah korban.

Kisah pilu tragedi ini, di antaranya dirasakan Iyep beserta keluarganya. Pria asal Kampung Sukamenak itu, adalah petani yang menggarap lahan di kawasan Cibitung.

Ketika terjadi peristiwa longsor, Iyep bersama istri, Dede, dan anaknya, Riskan, 4 tahun, tengah berkebun kentang di lahan garapannya.

Kebun kentang tersebut, akan dipanennya sekitar lima hari lagi. Namun malang, sebelum dapat memanen dan menikmati hasilnya, Iyep bersama istri serta anaknya, malah terseret material longsor.

“Kami bertiga terseret lumpur longsor sejauh puluhan meter, bersamaan dengan terseretnya pohon alpukat usia 50 tahun. Bahkan, konkrit sapot (penahan) pipa ukuran 36-40 inci pun, ikut terseret longsor,”tutur Iyep kepada Jabarpress.com.

Saat musibah terjadi, sambung dia, istri dan anaknya sempat terpisah, namun mereka berhasil selamat dan diberikan kesempatan hidup sampai sekarang.

“Alhamdulillah, Allah SWT masih menyelamatkan kami,”katanya.

Namun, kendati berhasil selamat, dia bersama keluarganya harus menanggung derita berkepanjangan, akibat luka dan trauma yang dialami. Iyep misalnya, mengalami retak di bagian pundak kiri dan kanan. Sehingga, nyaris lima bulan lamanya tidak bisa berjalan.

“Sampai sekarang, saya enggak bisa berjalan normal. Saya juga, enggak kuat duduk lama-lama, rasanya sakit,”keluhnya.

Sedangkan istrinya, Dede, mengalami bengkak di bagian punduk dan tulang sikut kanannya menonjol. Adapun sang anak, Riskan, mengalami luka sobek di bagian perut, pelipis dan dagu. Bahkan, Riskan sampai mengalami trauma berat akibat kejadian itu.

“Kalau denger suara kapal, Riskan suka ketakutan, begitu juga kalau ada angin besar, dia sangat takut. Dia bener-bener trauma sekali sampai sekarang,”ungkapnya.

Selain derita fisik dan psikologis, keluarga ini, juga terpaksa merelakan kebun kentang siap panen miliknya, hancur tergerus longsor. Padahal, jika dirupiahkan, kebun kentang tersebut, bernilai sekitar Rp100 juta.

“Hasil panen yang sedianya kami dapat sekitar Rp100 juta itu, malah raib. Yang tadinya mau panen kentang, justru sekarang kami jadi ‘panen’ penyakit,”ucapnya.

Janji ‘Manis’ PT Star Energy

Iyep menuturkan, pasca terjadinya peristiwa longsor, manajemen PT Star Energy, berjanji akan membantu biaya pengobatan keluarganya hingga sembuh.

Bahkan, perusahaan yang mengelola panas bumi (gheotermal) di sekitar kawasan longsor itu, sempat mengirim dua orang tenaga medis (dokter) dan humas perusahaan bernama Opik, ke rumah keluarganya.

Saat itu, pihak perusahaan, melalui Humas, Opik, menjanjikan pengobatan keluarganya ke RS Al-Ihsan sampai pulih.

Namun kenyataannya, kedatangan dokter kiriman Star Energy tersebut, hanya sekadar memeriksa kondisi Iyep sekeluarga dan memberinya rujukan berobat ke RS Al-Ihsan.

“Itupun, rujukan dari dokter Star Energy itu, malah ditolak oleh pihak RS Al-Ihsan. Akhirnya, kepaksa pengobatan selama ini dari biaya sendiri,”ujarnya.

Dia menyebut, tak hanya perusahaan yang menjanjikan bantuan, pihak desa setempat pun, melalui Kades Margamukti, Agus Suherman, juga sempat berjanji mengganti biaya pengobatan keluarganya. Namun, lagi-lagi, janji itu meleset.

“Setelah biaya pengobatan itu dihitung seluruhnya, lalu kwitansinya diserahkan ke kades, dia (kades) malah ngomong ‘naha loba-loba teuing ieu kwitansi’ (kok banyak amat ini kwitansi). Diapun enggak jadi mengganti biayanya,”ungkapnya.

Gugat Perusahaan, Tempuh Upaya Hukum

Kesal atas janji-janji perusahaan yang tidak kunjung terbukti, Iyep pun mengadukan nasibnya kepada Tim Advokasi dari Ormas MAPANCAS Kabupaten Bandung dan Kantor Hukum Sony M Kamal, untuk menempuh langkah hukum.

Tim Advokasi dari Ormas MAPANCAS, Cecep Supriatna, mengaku, sudah menerima pengaduan dari keluarga Iyep dan para korban longsor Cibitung lainnya.

“Kami sudah mengumpulkan banyak bukti ihwal kelalaian dan pembiaran terhadap para korban longsor, yang dilakukan oleh semua pihak yang berwenang. Bukti dan data itu, semuanya sudah kami serahkan ke Kuasa Hukum Sony M Kamal melalui Sachrial,”imbuhnya.

Terpisah, Kuasa Hukum korban longsor Cibitung dan para penggarap, Sachrial, menegaskan, bukti baru dan saksi hidup ini (Iyep dan keluarga) adalah kehendak Allah, untuk mengungkap ketidakadilan dan berbagai kesewenangan dari pihak terkait.

“Kita doakan bersama, bahwa yang benar akan tetap benar, dan yang salah harus menanggungnya. Sangat tidak adil rasanya, bila korban malah dibiarkan dan mencoba untuk dilupakan. Upaya yang dilakukan DPD Mapancas Bandung adalah pembuka tabir gelap peristiwa longsor Cibitung,”pungkas Sachrial.

Sementara itu, hingga kini, manajemen PT Star Energy dan pihak terkait lainnya, belum memberikan tanggapan resmi, atas keluhan para korban longsor Cibitung Desa Margamukti Kabupaten Bandung tersebut.

Red

BERBAGI