Beranda Ekonomi Tergiur Cerita Sebuah Blog, Aang Jelajahi Sanghiyang Tikoro di Subang

Tergiur Cerita Sebuah Blog, Aang Jelajahi Sanghiyang Tikoro di Subang

BERBAGI
Perjalanan menuju Sanghiyang Tikoro melalui kampung Cigore Desa Tenjolaya Subang

Jabarpress.com, Subang-Perjalanan jauh dan melelahkan menuju Sanghiyang Tikoro yang berlokasi di Kampung Cigore Desa Tenjolaya Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, seolah tak dirasakan Aang Choerudin dan kawan-kawannya.

Rasa lelah Aang bersama rekan-rekannya asal Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat ini, akhirnya terobati oleh pemandangan indah perbukitan, yang terhampar di sepanjang jalan menuju Sanghiyang Tikoro.

Belakangan ini, nama Sanghiyang Tikoro mendadak ngetop dan legendaris, sebagai sebuah destinasi petualangan bagi sejumlah kalangan masyarakat.

Tempat legendaris ini, disebut-disebut menjadi titik masuk air, yang berasal dari tujuh sungai di wilayah Subang Selatan, ke dalam bumi.

Air tujuh sungai tersebut, kemudian akan keluar lagi di daerah Kecamatan Gantar Kabupaten Indramayu.

Konon, tempat itu disebut Sanghiyang Tikoro, karena menyerupai “tikoro” atau kerongkongan, yang memanjang lurus ke bawah tanah.

Keberadaan tempat ini, juga kerap diwarnai sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat.

“Informasi dari sebagian warga, lokasi ini cukup angker. Kami ingin merasakan nuansa tersebut,”celoteh Aang, di sela perjalanan menuju Sanghiyang Tikoro.

Aang sendiri mengaku, ingin membuktikan cerita seorang wartawan yang menulis dalam laman blog pribadinya, tentang perjalanan heroiknya menjelajahi Sanghiyang Tikoro.

“Saya ke Subang karena tertarik dengan cerita Sanghiyang Tikoro. Saya berangkat dari Lembang pukul 06.00 WIB bersama empat rekan, istri dan anak saya,”tuturnya.

Sebelum menuju lokasi, dirinya menyempatkan mampir ke Pesantren Darul Falah. Pesantren ini jadi titik pemberangkatan rombongannya, dengan dipandu tim Santri Saba Wisata.

Pasalnya,  pesantren yang berlokasi di Desa Cimanggu ini, turut disebut dalam laman blog itu, karena para santrinya memiliki program ekstrakurikuler Santri Pecinta alam (Sapala).

“Jadi, pas berangkat ke lokasi, kami dipandu tim dari Santri Saba Wisata. Dari Cimanggu, kami diantar melalui Kampung Cibuluh, Ciseupan, Cijere hingga tiba di Cigore,”katanya.

Perjalanan ini, menghabiskan waktu sekitar satu jam, menggunakan mobil dengan kondisi jalan kurang bagus. Pihaknya, harus ekstra waspada, karena menyusuri tebing dan jalanan yang curam.

“Kami sempat berhenti di beberapa titik, untuk sekadar berfoto bersama, menikmati alam yang segar, asri dan pemandangan yang indah, melihat panorama perbukitan. Cuma memang disesalkan, akses jalan yang kami lalui kurang baik, enggak beraspal, dan licin jika hujan,”ucap Aang.

Rekan Aang, Andrew, memuji keramahan warga Kampung Cigore dalam menyambut rombongan. Saat itu, pihaknya disuguhi makanan ringan khas Cigore, yakni kiripik singkong dan pisang.

“Sampai di Kampung Cigore, waktu sudah siang. Rombongan kemudian singgah di rumah yang sudah disiapkan sebagai tempat beristirahat. Kami disambut dengan jamuan khas daerah ini, plus air wedang gula hangat. Konon, wedang ini bisa membuat stamina kuat. Selepas istirahat, kami langsung bergerak menuju Sanghiyang Tikoro, ditemani beberapa pemuda setempat,”imbuhnya.

View Kota Subang dan Indramayu terlihat Indah dari Ketinggian

Keindahan Kota Subang terlihat dari ketinggian di sekitar lokasi Sanghiyang Tikoro. Bahkan, tak hanya Subang, Kabupaten Indramayu pun terlihat jelas.

Perjalanan melelahkan rombongan para ‘petualang’ asal Lembang, yang memakan waktu lebih tiga jam ini pun, terobati begitu tiba di Sanghiyang Tikoro.

“Dari Cigore sampai ke sini (Sanghiyang Tikoro), makan waktu tiga jam lebih. Perjalanannya pun super ekstrim. Kami naik turun perbukitan yang kondisinya masih ‘perawan’, bahkan terasa angker, ditambah diguyur hujan. Tapi kami puas begitu bisa sampai ke lokasi,”ucap Andrew.

Setelah menikmati suasana Sanghiyang Tikoro selama 30 menit, rombongan langsung memutuskan segera pulang, agar tidak kesorean di perjalanan.

“Kami langsung bergerak menuju Kampung Ciparang yang luar biasa juga jauhnya, melalui hutan belantara, perkebunan dan pesawahan. Sejenak beristirahat, kami langsung pulang. Meski lelah, perjalanan kami ini benar-benar sangat memuaskan dan berkesan,”pungkasnya. (Redaksi)

BERBAGI